Sementara itu, sang suami, Rabaya, bekerja sebagai buruh serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu. Kondisi tersebut membuat kebutuhan sehari-hari keluarga harus dipenuhi secara sangat terbatas, termasuk untuk memperbaiki rumah.
Selain persoalan hunian, Arpi juga mengungkapkan harapannya terkait pendidikan anak. Menurutnya, keterbatasan biaya untuk kebutuhan dasar sekolah seperti seragam, buku, alat tulis, dan perlengkapan lainnya menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga.
Meski demikian, Arpi tetap berharap suatu hari keluarganya dapat memperoleh kesempatan tinggal di rumah yang lebih layak dan anaknya dapat melanjutkan pendidikan dengan baik.
“Kami hanya berharap ada perhatian dan bantuan, supaya bisa punya rumah yang lebih aman dan anak bisa sekolah dengan tenang,” ungkapnya penuh harap.
Kisah keluarga Arpi menjadi potret nyata perjuangan masyarakat yang bertahan di tengah keterbatasan. Besar harapan, berbagai pihak dapat turut memberikan perhatian dan dukungan agar keluarga ini dapat menjalani kehidupan yang lebih layak di masa mendatang.
*Penulis : AN
Komentar