Pertama, produktivitas yang bernilai. Budaya mengejar produksi, menurutnya, tidak boleh hanya sekadar prestise, tetapi harus benar-benar menghasilkan keuntungan nyata bagi perusahaan.
Kedua, efisiensi biaya yang terukur. Setiap pengeluaran perusahaan harus melalui pertimbangan matang agar menghasilkan dampak positif bagi kinerja perusahaan.
“Setiap rupiah yang dikeluarkan harus dipikirkan secara matang dampaknya. Jangan hanya memikirkan bagaimana uang keluar, tetapi juga bagaimana pengeluaran tersebut dapat menghasilkan nilai nyata bagi perusahaan,” tegasnya.
Ketiga, kecepatan eksekusi yang dibarengi arah yang jelas. Ia mengibaratkan seseorang yang mengendarai kendaraan besar tanpa mengetahui tujuan, dengan seseorang yang menggunakan kendaraan sederhana tetapi memiliki rute yang jelas.
“Kecepatan akan tercipta saat kita tahu arahnya ke mana dan memahami instrumen yang kita gunakan untuk mencapainya. Jangan sekadar cepat, tetapi grusa-grusu tanpa perhitungan,” jelasnya.
Menutup arahannya, Jatmiko menegaskan bahwa tantangan terbesar sebuah perusahaan bukan hanya mencapai prestasi, tetapi menjaga konsistensi (istiqomah) dalam mempertahankan capaian tersebut.
Melalui rangkaian Ekspedisi Safari Ramadan di tujuh regional, manajemen PalmCo berharap konsolidasi internal semakin kuat. Dengan menyatukan langkah dari berbagai wilayah operasional di Sumatera, Jawa hingga Kalimantan, perusahaan optimistis dapat mempertahankan pertumbuhan positif serta memperkuat posisi di industri perkebunan kelapa sawit nasional. (red)*
Komentar