Ia juga menyoroti pentingnya edukasi budaya sejak usia dini. Karena itu, festival turut melibatkan anak-anak PAUD agar lebih mengenal budaya Betawi melalui konsep bermain sambil belajar.
Kepala Sekolah PAUD Cempaka Wangi, Erda Wati, bersama guru kelas usia 4–6 tahun, Fenny Hariyanti, menilai pengenalan budaya lokal sejak dini penting dilakukan agar anak-anak tetap dekat dengan tradisi daerahnya.
“Anak-anak perlu ruang bermain yang edukatif agar bisa berkembang kreatif sekaligus mengenal budayanya sendiri,” ujar Fenny.
Di sisi lain, Ketua RT 02 RW 15, Abdul Manaf, mengatakan pelestarian Silat Cingkrik menjadi bagian penting dalam menjaga identitas masyarakat Betawi di Rawa Belong. Sebagai penerus tradisi silat Betawi, dirinya telah mengajarkan silat sejak tahun 1990-an melalui Sanggar Silat Cingkrik S3 (Salat, Silat, Selawat).
“Silat ini bukan untuk gagah-gagahan, tetapi untuk menjaga tradisi Betawi agar tidak hilang,” ujarnya.
Menurut Abdul Manaf, seni bela diri tradisional juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, mulai dari pertunjukan palang pintu hingga profesi pelatih dan juri silat.
Festival Dekorasi Kampung Betawi di Palmerah menjadi bukti bahwa budaya lokal tetap dapat hidup dan berkembang di tengah modernisasi kota. Selain menjaga warisan leluhur, kegiatan ini juga memperkuat kebersamaan warga, menggerakkan ekonomi masyarakat, serta menjadi sarana edukasi budaya bagi generasi muda.
Dengan semangat gotong royong dan kecintaan terhadap budaya lokal, Kampung Betawi Palmerah tampil sebagai contoh nyata bagaimana tradisi dapat menjadi kekuatan sosial, budaya, dan ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat Jakarta.(*/hel)
Komentar