Seputarpublik, Lombok Tengah – Kisah inspiratif tentang Sersan Mayor Sucipto Munandar dan yayasan yang didirikannya, Yayasan Tahfidz Darul Musthofa, benar-benar menginspirasi. Meskipun beliau adalah seorang anggota TNI, beliau memiliki tekad dan semangat untuk memberikan kontribusi positif kepada masyarakat di lingkungannya.
Yayasan Tahfidz Darul Musthofa bertujuan untuk mendidik anak-anak menjadi penghafal Al-Quran melalui rumah tahfidz dan juga menyelenggarakan Majelis Taklim untuk masyarakat sekitar.

Beliau mendirikan lembaga formal, yaitu Sekolah Menengah Pertama Tahfidzul Qur’an (SMP TQ) Darul Musthofa, dan lembaga non-formal seperti Rumah Tahfidz Darul Musthofa dan Majelis Taklim Tarbiyatul Ummah.
Pada saat wawancara dengan awak media, Serma Sucipto Munandar menjelaskan bahwa yayasan yang beliau pimpin baru saja membuka SMP TQ Darul Musthofa pada Tahun Ajaran 2023/2024 dengan 4 murid/santri baru. Rumah Tahfidz memiliki 80 santri dengan 4 tenaga pendidik/ustadz, dan proses belajar dilaksanakan pada sore hari. Sedangkan Majelis Taklim diadakan setiap hari Minggu dengan TGH. L. Ma’ruf Karhi sebagai penceramah.

Yayasan ini telah mendapatkan pengesahan resmi dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI serta terdaftar di Kesbangpodagri Kabupaten Lombok Tengah. Pendirian yayasan ini terinspirasi dari pengalaman Serma Sucipto Munandar sebagai anggota Tim Intel Korem 162/WB yang berkomunikasi dengan tokoh agama, tokoh masyarakat, dan melihat kondisi lingkungan tempat tinggalnya yang belum memiliki rumah tahfiz. Rumah Tahfiz Qur’an Darul Musthofa inilah yang menjadi satu-satunya di Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah.
Ustadz Edi Fauzi, selain menjadi pengajar di Yayasan Tahfidz Darul Musthofa, juga menjabat sebagai kepala lingkungan dusun pidada. Beliau menceritakan bahwa pada awalnya masyarakat bingung karena pendiri yayasan ini adalah seorang tentara, bukan orang yang berkecimpung dalam bidang pendidikan. Namun, seiring berjalannya waktu dan melihat hasil dari proses belajar mengajar, masyarakat mulai mempercayai yayasan ini. Santri yang awalnya sepuluh orang menjadi delapan puluh orang dalam waktu yang relatif singkat.
Kisah inspiratif ini menunjukkan betapa keberanian, ketekunan, dan semangat yang dimiliki oleh Sersan Mayor Sucipto Munandar dalam mendirikan yayasan tersebut.
Ia membuktikan bahwa dengan tekad yang kuat dan kerja keras, siapa pun dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, tanpa memandang latar belakang atau pekerjaan mereka.
(Team SP).