“Makanya moto kita adalah dari tradisi menjadi prestasi,” ucap H Fahmi.
Harus diakui bahwa atlet-atlet silat yang sekarang ada di silat prestasi sebetulnya berasal dari pesilat tradisi.
“Jadi festival ini kita harapkan bisa menghasilkan bibit-bibit yang nantinya bisa kita antarkan ke jenjang prestasi, untuk itu saya berharap pemerintah melalui Kemenpora dan Dinas Kebudayaan DKI harus memberikan perhatiannya supaya kita bisa terus mendapatkan calon atlet silat yang berprestasi,” pungkasnya.
Senada dengan H Fahmi, Ketua Umum Astrabi H Yusron Syarief mengatakan, agar pemerintah dapat lebih memperhatikan silat tradisi khususnya silat asli Betawi.
Yusron meminta pemerintah lebih memperhatikan hal tersebut. Sebab, sangat disayangkan kalau silat tradisi Betawi tidak dikembangkan. Malahan bakal cenderung punah.
“Astrabi meminta pemerintah juga memperhatikan silat tradisi Betawi, karena ini warisan budaya Indonesia,” ujar Yusron.
Dirinya menambahkan, bahwa pencak silat tradisi sudah sepantasnya mendapat pembinaan dan pengembangan serius dari pemerintah.
“Unesco telah menyatakan pencak silat sebagai warisan budaya tak benda dunia asal Indonesia, maka pemerintah harus ambil peran yang signifikan terhadap Pencak Silat tradisi,” sambung Yusron.
Menurutnya, harus ada nomenklatur khusus tentang pembinaan dan pengembangan pencak silat tradisi baik di APBN maupun di APBD.
“Sebagai bagian dari budaya bangsa, pencak silat menjadi bagian dari jati diri bangsa. Filosofi dan nilai-nilai dikandung, pencak silat merupakan pendukung karekter bangsa Indonesia,” tutup Yusron. (hel)
Komentar