Disisi lain, dijelaskan juga bahwa komitmen Bank Indonesia untuk menjaga sustainability dari kegiatan ekspor NTB dilakukan dengan melaksanakan pendampingan secara end-to-end process yaitu pendampingan dari hulu ke hilir dengan menyertakan program community development didalamnya. Mulai dari melakukan pendampingan untuk meningkatkan produktivitas di sisi hulu sampai ke pendampingan untuk mengolah dan memproduksi produk turunan vanili di sisi hilir yang saat ini sedang dijajaki oleh KPw BI NTB.
Dilaporkan oleh Kepala Balai Karantina Kelas I A Mataram bahwa jumlah ekspor vanili selama tiga tahun terakhir yaitu sebanyak 1,4 ton di tahun 2020, 2,4 ton di tahun 2021, dan 6,5 ton di tahun 2022. Keberhasilan peningkatan jumlah ekspor vanili tidak terlepas dari kerja sama dan pendampingan yang dilakukan oleh Tim Genjot Ekspor terhadap pertumbuhan komoditas vanili organik di NTB yang sudah dilakukan sejak tahun 2020. Disebutkan juga bahwa beberapa hal yang menjadi pertimbangan vanili sebagai salah satu komoditas unggulan yang strategis untuk dikembangkan di NTB adalah karena komoditas tersebut memiliki potensi dan peluang pasar yang sangat besar karena kualitasnya yang sudah diakui oleh pasar internasional. Kualitas vanili dari NTB telah diakui sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Selain itu, nilai ekonomi dari vanili juga terbilang menggiurkan dimana petani dapat menghasilkan 25 juta perbulan jika memiliki 1000 pohon vanili.
“Kita sudah mulai bergerak mendorong bagaimana vanili bisa menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kesejahteraan petani,” ujar Arinaung.

Direktur PT. Singing Dog Vanilla juga turut memberikan sambutan dan menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung terjalinnya kerja sama ekspor ini. Ia berharap kerja sama tersebut akan terus berjalan dalam jangka panjang karena adanya persamaan tujuan untuk mendukung dan meningkatkan kesejahteraan petani.
“We have same goals, we have farmers, we taking care, we supported,” ujarnya.
(Yyt)
Komentar