Pada 7 September 2026, lima wartawan foto dari berbagai media bersama tiga orang lainnya—terdiri dari kapten kapal, anak buah kapal (ABK), dan pemandu—dilaporkan berangkat dari kawasan Pagedongan, Carita, Pandeglang, untuk melakukan peliputan dan memperoleh gambar erupsi Gunung Anak Krakatau dari lokasi yang dekat dengan kawasan erupsi.
Hendry Ch Bangun, mantan wartawan senior Harian Kompas, mengapresiasi naluri jurnalistik para jurnalis tersebut yang berupaya terjun langsung ke lokasi kejadian untuk mendapatkan informasi dan gambar bagi masyarakat.
“Naluri jurnalistik teman-teman ini patut diapresiasi, apalagi di tengah era digital dan artificial intelligence, di mana wartawan cenderung ingin bekerja cepat dan tidak mau repot-repot terjun ke lokasi kejadian,” tambah Raja Pane.
Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian setelah mengalami erupsi yang mengeluarkan lava, abu, dan material pijar. Beberapa hari sebelumnya, lima wartawan tersebut dilaporkan berangkat menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.
Menurut informasi Basarnas, posisi terakhir mereka diketahui berada sekitar 18,5 kilometer dari pantai. Setelah itu, komunikasi dengan mereka dilaporkan terputus.
Hingga Rabu (9/9/2026), pencarian terhadap lima wartawan dan tiga orang lainnya masih menjadi perhatian bersama. FWK berharap seluruh unsur yang terlibat terus mengoptimalkan upaya pencarian dan seluruh korban dapat segera ditemukan.(Red.)*
Komentar