> “Jangan sampai kita hanya menjadi penonton di kampung sendiri. Kita harus menjadi tuan rumah, pengelola, dan bagian penting dari kemajuan Jakarta,” tegas Matsani.
Ia menambahkan, Pemprov DKI Jakarta membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk berkembang, tidak hanya dalam pelestarian budaya, tetapi juga melalui inovasi dan partisipasi aktif dalam pembangunan.
Momentum ini dinilai semakin penting menjelang Jakarta memasuki usia lima abad pada 2027, yang menjadi panggilan sejarah bagi masyarakat Betawi untuk menunjukkan kontribusi terbaiknya bagi masa depan ibu kota.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Adat Majelis Kaum Betawi, Fauzi Bowo, menekankan pentingnya persatuan dan tanggung jawab kolektif dalam membawa Betawi ke panggung yang lebih luas, termasuk tingkat global.
> “Satu kata yang ingin saya tekankan adalah persatuan. Jangan hanya bersatu di lisan, tetapi bersatulah di dalam hati. Di tangan generasi mudalah masa depan kaum Betawi berada,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa perjuangan tersebut membutuhkan peran setiap elemen masyarakat agar Jakarta dapat dikelola dengan kesungguhan dan tanggung jawab bersama.
Pengukuhan Forum Komunikasi Mahasiswa Betawi menjadi momentum memperkuat sinergi antara generasi muda, tokoh masyarakat, dan pemerintah. Nilai khas Betawi yang santun, egaliter, dan terbuka diharapkan tetap dijaga sebagai identitas, sekaligus menjadi kekuatan dalam mendukung Jakarta sebagai kota global yang inklusif dan bermartabat. (*/Hel)
Komentar