Seputarpublik.com || JAKARTA – Di tengah derasnya perkembangan musik digital dan dominasi budaya populer, musik tradisional Betawi menghadapi tantangan regenerasi yang tidak ringan. Persoalannya bukan semata-mata kehilangan penggemar, melainkan bagaimana musik Betawi dapat terus berkembang dan beradaptasi mengikuti perubahan zaman.
Persoalan tersebut mengemuka dalam Diskusi dan Workshop Musik Betawi Sesi I yang menjadi bagian dari rangkaian Betawi Jazz Jakarta Selatan 2026 di Atrium The Bellezza, Permata Hijau, Jakarta Selatan, Sabtu (25/7/2026).
Forum tersebut menghadirkan praktisi musik Betawi sekaligus pengajar karawitan Betawi, Andi Suhandi, dan pengamat musik Stanley Tulung. Diskusi dipandu oleh moderator Muhammad Sulhi Rawi.
Dalam diskusi tersebut, Andi Suhandi menggambarkan kondisi musik Betawi saat ini dengan pernyataan sederhana yang menurutnya mencerminkan tantangan yang dihadapi musik tradisi.
> “Posisi musik tradisi saat ini rada nanggung. Maju enggak, mundur juga enggak.”
Menurut Andi, kondisi stagnan tersebut salah satunya dipengaruhi minimnya ruang bagi pelaku musik tradisi untuk berkreasi dan berekspresi. Salah satu indikator yang dirasakan adalah semakin terbatasnya panggung musik Betawi di media televisi dibandingkan beberapa dekade sebelumnya.
“Dulu kan zaman baba saya sering banget,” kenangnya.
Sebagai pengajar karawitan Betawi di sejumlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jakarta, Andi mengaku menghadapi tantangan dalam menanamkan kecintaan terhadap musik tradisi kepada generasi muda.
Menurutnya, mengenalkan musik seperti Gambang Kromong kepada siswa bukan perkara mudah. Padahal, generasi Z hingga generasi Alfa memiliki peluang besar untuk menjadi bagian dari upaya pelestarian musik tradisional karena sangat dekat dengan media sosial dan berbagai platform musik digital.
Namun, menurut Andi, teknologi saja tidak cukup. Rasa cinta terhadap budaya perlu tumbuh terlebih dahulu agar generasi muda terdorong untuk mempelajari sekaligus mengembangkan musik tradisi.
Musik Betawi Terbuka untuk Kolaborasi
Andi menegaskan bahwa musik Betawi bukan kesenian yang kaku. Sebaliknya, musik tradisional Betawi memiliki ruang yang luas untuk berkolaborasi dengan berbagai genre musik modern.
“Gambang Kromong, mau dibawa nge-jazz, oke aja,” ujarnya.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa upaya pelestarian budaya tidak selalu harus dilakukan dengan mempertahankan bentuk lama secara utuh. Kolaborasi dengan musik modern justru dapat menjadi salah satu jalan untuk menjaga musik Betawi tetap relevan dengan perkembangan zaman dan perubahan selera masyarakat.
Mencari Ikon Baru Setelah Benyamin Sueb
Senada dengan Andi, pengamat musik Stanley Tulung melihat persoalan lain yang tidak kalah penting, yakni belum munculnya sosok besar yang mampu menjadi ikon baru musik Betawi setelah wafatnya Benyamin Sueb.
Menurut Stanley, Benyamin bukan hanya milik masyarakat Betawi, tetapi merupakan salah satu legenda musik Indonesia.
“Benyamin itu legenda, bukan hanya buat Betawi, tapi Indonesia. Para musisi yang saya kenal mengakui itu. Musik apa saja dia bisa,” ungkap Stanley.
Meski demikian, Stanley mengingatkan bahwa melahirkan tokoh sebesar Benyamin tidak dapat dilakukan secara instan. Menurutnya, setiap legenda lahir melalui proses panjang yang membutuhkan perjuangan, konsistensi, dan perjalanan karier.
“Ada proses yang mesti dilewati. Benyamin juga enggak begitu saja jadi musisi serbabisa. Sebelum terkenal, dia juga berdarah-darah,” katanya.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Stanley tetap optimistis musik Betawi suatu saat akan kembali melahirkan ikon baru.
Namun, menurut dia, hal tersebut membutuhkan komitmen para pelaku seni untuk terus bergerak, berkarya, membangun kolaborasi, sekaligus menciptakan ruang regenerasi.
“Saya yakin akan ada siklusnya nanti muncul lagi sosok seperti Benyamin. Syaratnya, jangan berhenti bergerak, dan jangan berhenti berproses,” ujarnya.
Membangun Ekosistem Musik Betawi
Harapan tersebut menjadi salah satu semangat penyelenggaraan Betawi Jazz Jakarta Selatan 2026. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan diskusi, tetapi juga Workshop Musik Betawi Sesi II dan Lomba Aransemen Lagu Betawi sebagai ruang pertemuan musisi lintas generasi.
Forum tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem musik Betawi yang lebih sehat dan berkelanjutan. Mulai dari menumbuhkan kecintaan generasi muda, membuka ruang kolaborasi dengan musik modern, hingga mendorong lahirnya ikon-ikon baru yang mampu membawa musik Betawi dikenal lebih luas.
Optimisme serupa disampaikan Harry de Fretes, pentolan Lenong Rumpi yang hadir sebagai peserta diskusi.
> “Yuk, kalau serius, pasti bisa.”
Pernyataan tersebut menjadi semangat bahwa meski musik Betawi menghadapi tantangan di tengah perubahan zaman, peluang untuk bangkit tetap terbuka.
Selama para pelaku seni terus berkarya, berkolaborasi, dan memberikan ruang bagi generasi muda untuk terlibat, harapan akan lahirnya kembali ikon baru musik Betawi bukan sesuatu yang mustahil.
Bisa jadi, kebangkitan musik Betawi justru sedang dimulai dari ruang-ruang kreativitas dan regenerasi hari ini.(*/hel)