Seputarpublik.com, JAKARTA — Ketidakpastian harga energi fosil akibat dinamika geopolitik global mendorong pelaku industri mencari strategi alternatif untuk menjaga stabilitas operasional. Di sektor perkebunan, langkah tersebut mulai menunjukkan hasil melalui pemanfaatan energi baru terbarukan berbasis limbah kelapa sawit.
Salah satu implementasi dilakukan oleh , bagian dari , yang mengoptimalkan limbah cair kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent/POME) sebagai sumber energi. Inovasi ini diwujudkan melalui pengoperasian pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg) untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.
Direktur Utama , , menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan strategi jangka panjang perusahaan, bukan sekadar respons sesaat terhadap lonjakan harga energi.
“Gejolak harga energi fosil dunia saat ini justru membuktikan bahwa pengembangan energi terbarukan yang kami lakukan adalah langkah tepat. PLTBg membantu kami mengurangi ketergantungan terhadap solar, sekaligus menjaga efisiensi biaya operasional,” ujarnya.
Saat ini, perusahaan mengoperasikan dua fasilitas, yakni PLTBg Terantam dan PLTBg Tandun, yang memanfaatkan teknologi covered lagoon untuk mengolah limbah cair menjadi biogas. Energi yang dihasilkan digunakan langsung untuk mendukung operasional pabrik kelapa sawit serta mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.
Berdasarkan data perusahaan, pemanfaatan energi biogas tersebut telah menekan konsumsi solar secara signifikan. Dalam periode 2023 hingga 2025, penggunaan solar berhasil dikurangi lebih dari 2,6 juta liter.
Efisiensi ini berdampak langsung pada kinerja keuangan, dengan penghematan biaya energi mencapai sekitar Rp39,5 miliar dalam tiga tahun terakhir.
Direktur Strategy & Sustainability PalmCo, , menilai pemanfaatan POME juga mencerminkan penerapan prinsip keberlanjutan di industri sawit.
“Ini bukan sekadar efisiensi, tetapi bagian dari ekonomi sirkular. Limbah cair yang sebelumnya menjadi tantangan lingkungan kini diolah menjadi sumber energi bernilai,” katanya.
Sepanjang tahun lalu, kedua fasilitas PLTBg tersebut mampu mengolah lebih dari 293.000 meter kubik limbah cair, menghasilkan jutaan meter kubik gas metana yang dimanfaatkan sebagai energi sekaligus menekan emisi gas rumah kaca.
Langkah ini dinilai sejalan dengan upaya global dalam mempercepat transisi energi dan menekan emisi karbon. Pemanfaatan limbah sebagai sumber listrik tidak hanya menjaga efisiensi operasional, tetapi juga memperkuat ketahanan energi sektor industri.
Sebagai bagian dari , terus mendorong pengembangan energi berbasis limbah sebagai strategi keberlanjutan sekaligus peningkatan daya saing industri perkebunan nasional.
Model pengelolaan energi ini dinilai berpotensi menjadi rujukan bagi industri perkebunan dalam menghadapi dinamika energi global secara berkelanjutan.(Adv)*