Selain berperan sebagai offtaker, perusahaan juga memberikan dukungan permodalan melalui program kemitraan senilai Rp800 juta. Dukungan tersebut dimanfaatkan untuk mengonsolidasikan bengkel kecil menjadi satu sentra produksi yang lebih terorganisasi dan efisien.
Seiring itu, proses produksi juga mengalami modernisasi melalui pemanfaatan teknologi, yang memungkinkan peningkatan kapasitas sekaligus kualitas produk. Saat ini, sentra tersebut telah dilengkapi sejumlah mesin modern, termasuk empat unit air hammer.
Dampak positifnya turut dirasakan masyarakat sekitar. Jumlah tenaga kerja meningkat dari belasan orang menjadi 23 pekerja, dengan potensi bertambah hingga 33 bahkan 50 orang. Selain itu, sekitar 100 pemuda desa dilibatkan sebagai mitra pemasaran.
Peningkatan aktivitas ekonomi ini juga mendorong kenaikan pendapatan masyarakat. Rata-rata pekerja kini memperoleh penghasilan sekitar Rp7 juta per bulan, dengan potensi meningkat hingga Rp10 juta sampai Rp15 juta seiring efisiensi produksi.
Tidak hanya berdampak secara ekonomi, keberadaan sentra ini juga memperkuat kohesi sosial. Sebagian keuntungan usaha dialokasikan untuk kegiatan sosial desa, sehingga mempererat solidaritas antarwarga.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa, menegaskan bahwa program TJSL dirancang untuk menciptakan dampak berkelanjutan.
“Kami mendorong terciptanya ekosistem ekonomi yang mandiri, membuka lapangan kerja, serta memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, kemitraan dengan kelompok pandai besi di Kampar juga menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai pasok industri perkebunan yang lebih inklusif.
Melalui program ini, Holding Perkebunan Nusantara bersama PTPN IV PalmCo menegaskan komitmennya untuk tidak hanya berfokus pada kinerja bisnis, tetapi juga menghadirkan dampak sosial nyata melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.(Adv)*
Komentar