“Ini bukan pertama kalinya warga Bekasi bergotong royong. Dulu kita pernah bersama-sama membangun puskesmas di Poso, kemudian gedung pertemuan di Aceh. Semuanya lahir dari donasi dan kepedulian masyarakat,” ujar Tri.
Tri mengatakan tradisi tersebut perlu terus dijaga karena kepedulian akan memiliki arti ketika diwujudkan dalam tindakan.
“Yang dibutuhkan saudara kita yang sedang terkena musibah adalah tindakan. PNBK ini kita jalankan, kita manfaatkan momentumnya untuk membantu saudara kita di NTT,” ujarnya.
Sebelum rangkaian parade dimulai, masyarakat diajak menundukkan kepala untuk mendoakan saudara sebangsa yang sedang mengalami musibah. Doa dipanjatkan bersama oleh pemuka agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Konghucu dalam semangat persaudaraan.
Salah seorang warga, Dedi (41), mengatakan dirinya tertarik ikut berdonasi setelah mengetahui PNBK juga membuka ruang untuk bantuan kemanusiaan.
“Kita datang memang mau lihat acara, tapi kalau sekaligus bisa ikut membantu saudara yang kena musibah, ya kenapa tidak. Sedikit dari kita mudah-mudahan berarti buat mereka,” katanya.
(*/AZ)
Komentar