Beranda
Seputar Publik / Berita

PTPN IV PalmCo Perkuat Kemitraan Sawit Rakyat, Bidik Serapan 1 Juta Ton TBS pada 2026

Melalui Gathering Petani Mitra 2026 di Bandung, PTPN IV Regional III mendorong integrasi petani sawit rakyat, percepatan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), serta kebijakan harga beli TBS untuk menjaga keberlanjutan usaha petani di tengah fluktuasi harga CPO.
PTPN IV PalmCo memperkuat kemitraan dengan petani kelapa sawit rakyat melalui Gathering Petani Mitra 2026 di Bandung, Jawa Barat. Kolaborasi ini diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, mempercepat program Peremajaan Sawit Rakyat, dan memperkuat keberlanjutan usaha petani. PTPN IV PalmCo memperkuat kemitraan dengan petani kelapa sawit rakyat melalui Gathering Petani Mitra 2026 di Bandung, Jawa Barat. Kolaborasi ini diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, mempercepat program Peremajaan Sawit Rakyat, dan memperkuat keberlanjutan usaha petani.

Seputarpublik.com | BANDUNG, — PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo terus mendorong penguatan kemitraan dengan petani kelapa sawit rakyat sebagai bagian dari upaya mengintegrasikan rantai pasok industri sawit nasional. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Gathering Petani Mitra 2026 yang diselenggarakan PTPN IV Regional III di Bandung, Jawa Barat, pada 15–18 Oktober 2026.

Mengusung tema “Break the Limit, Make the Leap”, kegiatan ini mempertemukan manajemen perusahaan dengan perwakilan petani kelapa sawit rakyat atau petani plasma. Forum tersebut menjadi ruang untuk memperkuat kolaborasi, mengevaluasi kemitraan, serta mendorong peningkatan produktivitas dan keberlanjutan usaha petani.

Secara korporasi, penguatan kemitraan tersebut sejalan dengan arah strategis Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa. Perusahaan tidak hanya berfokus pada pengembangan bisnis inti, tetapi juga memperkuat peran dalam program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

Melalui pendampingan lahan masyarakat dan penyerapan tandan buah segar (TBS), PTPN IV PalmCo berupaya mendukung produktivitas kebun rakyat, menjaga kesinambungan pasokan bahan baku, serta memperkuat rantai pasok industri kelapa sawit dari hulu hingga hilir.

Integrasi Petani Jadi Kekuatan Industri Sawit Nasional

Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo, Arya Sandhiyudha, menilai kolaborasi dengan petani sawit rakyat menjadi langkah strategis bagi perusahaan negara dalam menghadapi persaingan industri yang semakin ketat.

Menurut Arya, integrasi kekuatan perusahaan perkebunan negara, swasta, dan petani rakyat diperlukan agar industri sawit nasional memiliki daya saing yang lebih kuat.

“Di peta sawit nasional, luasan PTPN berada di kisaran 5 persen. Kita tidak akan bisa bersaing dengan 53 persen pihak swasta jika berdiri sendiri. Kekuatan baru akan tercipta jika kita menggandeng dan mengintegrasikan 42 persen kekuatan petani sawit rakyat,” jelas Arya dalam sambutannya.

Sebagai upaya mengukur kinerja sekaligus memberikan apresiasi terhadap kemitraan yang telah berjalan, Arya menyampaikan bahwa PTPN IV meluncurkan program PSR Award pada 2026.

Program tersebut dirancang sebagai instrumen untuk mendorong akuntabilitas perusahaan dalam pelaksanaan kemitraan sekaligus mempercepat program peremajaan kebun sawit rakyat.

“Harapannya, pasca PSR Award, terjadi akselerasi program peremajaan yang lebih masif ke depannya,” imbuhnya.

Regional III Bidik Produktivitas 24,5 Ton per Hektare

Dari sisi operasional wilayah, Pelaksana Tugas (Plt.) Region Head PTPN IV Regional III, Sori P. Ritonga, memaparkan sejumlah proyeksi kinerja perusahaan untuk 2026. Target tersebut mencakup produktivitas kebun, penyerapan TBS dari program kemitraan, serta estimasi laba.

“Tahun ini kami memproyeksikan pencapaian produktivitas di angka 24,5 ton per hektare. Dari sisi kemitraan, pembelian TBS dari program PSR ditargetkan mencapai 1 juta ton, melampaui rata-rata tahun sebelumnya yang berada di kisaran 900 ribu ton. Hal ini diharapkan bermuara pada capaian estimasi laba sebesar Rp3,1 triliun,” urai Sori di hadapan para petani mitra.

Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, luas lahan kemitraan PTPN IV Regional III tercatat lebih dari 15.000 hektare dengan melibatkan sekitar 7.500 petani.

Komposisi lahan yang dipaparkan mencakup 8.700 hektare tanaman menghasilkan (TM) dan 2.300 hektare tanaman belum menghasilkan (TBM). Angka tersebut merupakan rincian yang disampaikan dalam paparan manajemen.

Sori mencontohkan KUD Tunas Muda sebagai salah satu mitra yang mencatat produktivitas hingga 21,3 ton per hektare pada fase tanaman menghasilkan tahun kedua (TM 2). Menurut klaim perusahaan, capaian tersebut sekitar 43 persen di atas standar Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS).

Peremajaan Sawit Rakyat Terus Didorong

Dalam pelaksanaan program PSR, PTPN IV Regional III melaporkan telah memperoleh Rekomendasi Teknis (Rekomtek) untuk lahan seluas 3.100 hektare. Luasan tersebut setara sekitar 70 persen dari target 2026 yang ditetapkan sebesar 4.500 hektare.

Manajemen juga menargetkan pengelolaan lahan plasma dapat meningkat secara bertahap hingga 22.000 hektare pada periode 2027–2028.

Percepatan peremajaan diharapkan dapat membantu meningkatkan produktivitas kebun rakyat, terutama pada lahan yang membutuhkan pembaruan tanaman. Pendampingan kelembagaan juga menjadi bagian dari strategi untuk memperkuat kapasitas petani dalam mengelola kebun dan menjaga kesinambungan produksi.

Jaga Harga Beli TBS di Tengah Fluktuasi CPO

Untuk menjaga kelancaran pasokan bahan baku, Sori menjelaskan bahwa perusahaan menerapkan sistem manajemen tunggal (single management) dan pendampingan kelembagaan kepada mitra.

Menurutnya, pendekatan tersebut juga disertai kebijakan harga beli TBS yang diarahkan untuk menjaga daya saing dan keberlanjutan usaha petani, meskipun harga minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pasar global mengalami fluktuasi.

“Kami berupaya menjaga harga beli di tingkat petani tetap stabil dan bersaing. Kepercayaan pasar ini terlihat dari volume antrean pasokan yang masuk ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) kami secara harian,” klaim Sori.

Kebijakan harga beli menjadi salah satu aspek penting dalam kemitraan antara perusahaan dan petani. Kepastian penyerapan hasil panen serta mekanisme harga yang transparan diharapkan dapat membantu petani merencanakan usaha dan menjaga pendapatan mereka.

Pasokan dari Kemitraan Ditargetkan Terus Meningkat

PTPN IV PalmCo juga berencana meningkatkan porsi pasokan bahan baku yang berasal dari kemitraan dengan petani sawit rakyat.

Sori menyebutkan bahwa kontribusi pasokan buah dari kemitraan yang pada 2019 berada di angka 9 persen kini telah mencapai 34 persen. Perusahaan memproyeksikan porsi tersebut meningkat menjadi 45 persen dalam jangka menengah.

Dalam rencana jangka panjang korporasi, kontribusi pasokan dari kemitraan ditargetkan mencapai 85 persen pada 2030.

Target tersebut mencerminkan arah perusahaan untuk memperbesar peran petani rakyat dalam rantai pasok industri sawit. Pencapaiannya akan bergantung pada pengembangan kemitraan, peningkatan produktivitas kebun, kesiapan kelembagaan petani, serta konsistensi penyerapan hasil panen.

Melalui Gathering Petani Mitra 2026, PTPN IV PalmCo menegaskan pentingnya kolaborasi antara perusahaan dan petani dalam memperkuat industri kelapa sawit nasional. Kemitraan yang produktif dan berkelanjutan diharapkan tidak hanya mendukung kinerja perusahaan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi petani serta memperkuat ketahanan rantai pasok sawit Indonesia.

*Penulis; Redaksi Seputarpublik.com