Menurutnya, berbagai negara di Asia Pasifik menghadapi tantangan berupa rendahnya aktivitas fisik, penurunan kualitas nutrisi, hingga meningkatnya tekanan terhadap kesehatan mental anak muda sehingga pendidikan menjadi faktor penting dalam membangun kebiasaan hidup sehat.
> "Program ini tidak hanya meningkatkan kesadaran, tetapi juga mendorong perubahan perilaku yang nyata dan berkelanjutan. Para siswa mengembangkan kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, dan kerja sama," ujarnya.
Sementara itu, Group Chief Executive and President AIA Group, Lee Yuan Siong, menilai keberhasilan program terletak pada kemampuannya mengubah pembelajaran mengenai kesehatan menjadi kebiasaan yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kompetisi AIA Healthiest Schools kini memasuki tahun keempat penyelenggaraannya dan diikuti peserta dari sembilan negara, yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, Filipina, Kamboja, Sri Lanka, Hong Kong SAR, dan Tiongkok. Program ini mendorong peserta didik berusia 5 hingga 16 tahun menerapkan gaya hidup sehat melalui empat pilar utama, yaitu pola makan sehat, gaya hidup aktif, kesehatan mental, dan keberlanjutan.
Ke depan, SMP IL Kapten Fatubaa menargetkan memperoleh sertifikasi BPOM, mengembangkan paten produk, memperluas implementasi Huka Upcycling Project (HUP) ke sekolah-sekolah lain, serta memperkuat kolaborasi dengan pemerintah dan berbagai mitra lintas batas.
Prestasi yang diraih sekolah di wilayah perbatasan ini menjadi bukti bahwa keterbatasan tidak menghalangi lahirnya inovasi. Melalui pemanfaatan limbah kulit pisang, SMP IL Kapten Fatubaa berhasil menghadirkan solusi berkelanjutan yang memberi manfaat bagi masyarakat sekaligus mengharumkan nama Indonesia di tingkat Asia Pasifik.(*/hel)
Komentar