Beranda
Seputar Publik / Berita

Ternyata Ini Asal-Usul Kata “Mudik”, Tradisi Lebaran yang Jadi Budaya Tahunan Masyarakat Indonesia

Istilah mudik yang identik dengan pulang kampung saat Hari Raya Idul Fitri ternyata memiliki sejarah panjang dari bahasa Jawa dan Melayu, serta berkembang sejak era urbanisasi besar pada 1970-an.
Banyak orang belum mengetahui bahwa kata mudik yang identik dengan tradisi pulang kampung saat Lebaran ternyata berasal dari bahasa Jawa dan Melayu serta berkembang sejak era urbanisasi besar pada 1970-an. Banyak orang belum mengetahui bahwa kata mudik yang identik dengan tradisi pulang kampung saat Lebaran ternyata berasal dari bahasa Jawa dan Melayu serta berkembang sejak era urbanisasi besar pada 1970-an.

Seputarpublik.com, JAKARTA – Tradisi mudik selalu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perayaan Hari Raya Idul Fitri di Indonesia. Setiap tahun, jutaan masyarakat melakukan perjalanan pulang ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga dan merayakan Lebaran.

Pada Lebaran 2026, puncak arus mudik diperkirakan terjadi pada Rabu, 18 Maret 2026 atau H-3 Lebaran. Pada periode tersebut, diprediksi sekitar 3,5 juta kendaraan akan keluar dari wilayah Jabodetabek menuju berbagai daerah di Indonesia.

Di tengah ramainya tradisi tahunan ini, tidak banyak masyarakat yang mengetahui bahwa kata mudik sebenarnya memiliki sejarah panjang serta makna yang lebih dalam dari sekadar pulang kampung.

Mengutip laman Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia melalui platform edukasi Indonesia Baik, istilah mudik disebut berasal dari ungkapan bahasa Jawa “mulih dilik”, yang berarti pulang sebentar ke kampung halaman.

Sementara itu, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata mudik memiliki dua pengertian utama. Pertama, berlayar atau pergi ke arah udik atau hulu sungai, dan kedua berarti pulang ke kampung halaman.

Penjelasan lain datang dari kalangan akademisi. Antropolog dari Universitas Gadjah Mada, Heddy Shri Ahimsa-Putra, menyebut bahwa secara etimologis istilah mudik berkaitan dengan kata “udik” dalam bahasa Melayu yang berarti hulu atau bagian atas sungai.

Pada masa lalu, masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir atau kota sering melakukan perjalanan menuju daerah pedalaman atau hulu sungai. Aktivitas tersebut kemudian dikenal sebagai mudik.

“Berasal dari bahasa Melayu, udik. Konteksnya pergi ke muara dan kemudian pulang kampung. Ketika orang mulai merantau ke kota karena pertumbuhan ekonomi, istilah mudik semakin dikenal ketika mereka kembali ke kampung halaman,” ujar Heddy, seperti dikutip dari laman resmi UGM.

Awal Mula Tradisi Mudik

Menurut catatan Kementerian Perhubungan Republik Indonesia, tradisi mudik mulai berkembang pesat sejak era 1970-an.

Pada masa tersebut, arus urbanisasi menuju kota-kota besar, terutama Jakarta, meningkat tajam.

Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga, Purnawan Basundoro, menjelaskan bahwa fenomena ini berkaitan erat dengan perpindahan penduduk dari desa ke kota setelah masa kemerdekaan Indonesia.

Sejak dekade 1960-an hingga 1970-an, Jakarta mulai dipadati masyarakat dari berbagai daerah yang datang untuk mencari pekerjaan serta kehidupan yang lebih baik.

Ketika momen Lebaran tiba, para perantau tersebut kembali ke daerah asal untuk bertemu keluarga. Kebiasaan tersebut kemudian berkembang menjadi tradisi tahunan yang kini dikenal luas sebagai mudik.

Seiring berjalannya waktu, mudik tidak lagi sekadar perjalanan pulang kampung. Tradisi ini telah menjadi bagian dari budaya sosial masyarakat Indonesia yang sarat makna kebersamaan, kekeluargaan, serta kerinduan terhadap tanah kelahiran.(Hel)*