Beranda
Seputar Publik / Berita

Transformasi Berbasis Data PTPN IV Regional III: Akurasi Produksi Sawit Tembus 96,77 Persen, Deviasi Nyaris Nol

Implementasi trossen telling dorong presisi perencanaan dan realisasi produksi TBS, memperkuat tata kelola operasional berbasis data di Holding Perkebunan Nusantara.
Transformasi berbasis data di PTPN IV Regional III membuahkan hasil! Akurasi produksi sawit tembus 96,77% dengan deviasi nyaris nol. Bukti nyata bahwa presisi dan data menjadi kunci dalam meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan industri perkebunan. Transformasi berbasis data di PTPN IV Regional III membuahkan hasil! Akurasi produksi sawit tembus 96,77% dengan deviasi nyaris nol. Bukti nyata bahwa presisi dan data menjadi kunci dalam meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan industri perkebunan.

Seputarpublik.com, PEKANBARU – Holding Perkebunan Nusantara terus memperkuat tata kelola operasional berbasis data di seluruh entitasnya. Salah satunya diwujudkan melalui transformasi on-farm yang dijalankan oleh PTPN IV Regional III dengan mengedepankan implementasi trossen telling atau perhitungan bunga buah sebagai fondasi estimasi produksi.

Dalam dua tahun terakhir, pendekatan ini menjadi instrumen utama dalam meningkatkan akurasi perencanaan dan realisasi produksi tandan buah segar (TBS). Sepanjang 2025, dari total produksi sebesar 1,6 juta ton TBS, tingkat akurasi perhitungan bunga buah tercatat mencapai 96,77 persen.

Bahkan, dibandingkan dengan prognosa pada periode yang sama, realisasi produksi mencapai 100,46 persen dengan deviasi hanya 0,46 persen. Capaian ini menunjukkan selisih yang sangat tipis antara estimasi dan realisasi di lapangan, sekaligus menegaskan tingginya presisi dalam pengelolaan produksi.

Region Head PTPN IV Regional III, Bambang Budi Santoso, menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan hasil konsistensi dalam membangun budaya kerja berbasis data dan presisi.

“Di PTPN IV Regional III, kami memastikan bahwa produksi tidak berjalan berdasarkan asumsi, melainkan berdasarkan data yang terukur. Akurasi trossen telling kami mencapai 96,77 persen, dengan realisasi terhadap prognosa menyentuh 100,46 persen dan deviasi hanya 0,46 persen. Ini menunjukkan validitas data yang kami bangun benar-benar presisi,” ujarnya.

Menurutnya, trossen telling bukan sekadar metode penghitungan bunga buah, melainkan parameter utama dalam memproyeksikan produksi TBS selama satu tahun penuh. Data tersebut menjadi dasar penyusunan kebutuhan operasional dari hulu ke hilir, mencakup tenaga kerja, material, transportasi, hingga aspek pendukung lainnya (labor, material, transport, and others / LMTO).

“Dengan forecast yang akurat, kami dapat menghindari kehilangan momentum saat panen puncak. Tidak ada keterlambatan tenaga kerja, kekurangan armada, maupun keputusan tanpa dasar data,” jelasnya.

Secara teknis, evaluasi akurasi dilakukan dalam dua periode, yakni Semester I dan Semester II 2025, dengan pembobotan berdasarkan kontribusi masing-masing kebun terhadap target RKAP. Tiga indikator utama yang digunakan meliputi jumlah tandan (80 persen), berat tandan rata-rata/BTR (10 persen), serta volume TBS (10 persen).

Data realisasi produksi diperoleh dari sistem SAP berdasarkan jumlah tandan dan volume TBS yang diterima di pabrik kelapa sawit (PKS). Pengukuran akurasi dilakukan menggunakan metode deviasi absolut antara estimasi dan realisasi produksi, dengan patokan terbaik berada pada deviasi 0 persen.

Sepanjang 2025, manajemen menetapkan tiga kebun dan 12 afdeling dengan tingkat akurasi terbaik. Sementara unit dengan deviasi absolut di atas 10 persen menjadi fokus evaluasi untuk perbaikan metode pada 2026.

Lebih lanjut, Bambang menyampaikan bahwa capaian ini sejalan dengan arahan Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko Santosa, yang menekankan pentingnya validitas data, kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP), serta integritas dalam setiap lini operasional.

“Arahan tersebut kami implementasikan melalui transformasi berbasis data, di mana presisi menjadi budaya kerja, data sebagai fondasi pengambilan keputusan, dan produksi dikelola secara terukur, akuntabel, serta berkelanjutan,” tegasnya.

Di tengah tantangan fluktuasi produksi dan tuntutan efisiensi, pendekatan berbasis data menjadi strategi utama dalam menjaga stabilitas pasokan sekaligus mengendalikan potensi deviasi perencanaan.

Dengan akurasi mendekati 97 persen dan deviasi yang nyaris nol, PTPN IV Regional III menegaskan keberhasilan transformasi tata kelola on-farm yang semakin solid. Melalui penguatan ini, PTPN Group terus menempatkan data sebagai kompas utama dalam mengelola operasional perkebunan secara presisi, akuntabel, dan berkelanjutan di Bumi Lancang Kuning.(Adv)*