Seputarpublik.com || JAKARTA — Lima dekade berkarya membawa Sarnadi Adam pada satu harapan yang ingin diwujudkannya di usia 70 tahun: hadirnya sebuah museum seni lukis Betawi di Jakarta.
Bagi Sarnadi Adam, perupa asal Jakarta yang selama puluhan tahun mengangkat kehidupan dan kebudayaan Betawi melalui karya seni, museum tersebut bukan sekadar ruang untuk menyimpan lukisan.
Ia membayangkannya sebagai ruang pendidikan, laboratorium seni, sekaligus penanda perjalanan panjang seni lukis Betawi yang selama ini ia tekuni dan kembangkan melalui karya.
"Saya berharap Pemerintah DKI Jakarta membuatkan sebuah museum untuk saya. Tidak terlalu besar, mungkin sekitar 200 meter persegi, dua lantai," kata Sarnadi saat wawancara khusus di kediamannya di kawasan Simprug, Jakarta Selatan, Rabu (23/9/2026).
Sarnadi membayangkan museum tersebut berada di lokasi strategis yang mudah dijangkau masyarakat. Salah satu lokasi yang menurutnya sesuai adalah kawasan Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, yang selama ini menjadi salah satu ruang penting bagi aktivitas seni dan kebudayaan di Jakarta.

Menurut Sarnadi, keberadaan museum akan membuat karya seni lukis Betawi lebih mudah dikenal masyarakat, terutama generasi muda.
Ia bahkan telah menyiapkan sebagian karya terbaiknya untuk mengisi ruang tersebut.
"Saya akan menyumbangkan 50 karya terbaik saya untuk mengisi museum tersebut," ujarnya.
Saat ini, Sarnadi menyebut memiliki sekitar 100 karya dalam koleksinya. Sebagian karya tersebut ingin ia dedikasikan sebagai koleksi museum yang diharapkannya dapat menjadi ruang khusus untuk mengenal perjalanan seni lukis Betawi.
Namun, gagasan tersebut tidak berhenti pada persoalan koleksi. Sarnadi ingin museum itu hidup sebagai ruang pembelajaran.
"Saya ingin museum itu menjadi laboratorium seni bagi pelajar," katanya.
Lima Dekade Membawa Betawi ke Dunia
Harapan Sarnadi terhadap museum tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjangnya sebagai perupa.
Selama sekitar lima dekade berkarya, ia tidak hanya memperkenalkan seni lukis Betawi di Jakarta, tetapi juga membawanya ke berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara.
Di dalam negeri, pameran-pameran karyanya telah berlangsung di sejumlah kota, antara lain Jakarta, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Malang, Surabaya, Bali, Makassar, Jayapura, serta berbagai daerah lainnya.
Dari ruang-ruang pamer di berbagai kota tersebut, Sarnadi terus mengangkat kehidupan masyarakat dan kebudayaan Betawi sebagai sumber gagasan.
Lingkungan, aktivitas masyarakat, pasar tradisional, tradisi, hingga kehidupan sehari-hari menjadi bagian dari objek yang diterjemahkannya ke dalam bahasa seni rupa.
Perjalanan itu kemudian meluas ke kawasan Asia. Karyanya pernah hadir dalam berbagai pameran di Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Brunei Darussalam, dan Korea Selatan. Jejaknya juga menjangkau China dan Jepang, antara lain melalui pameran di Shenzhen, Beijing, dan Tokyo.
Perjalanan artistiknya berlanjut ke Eropa. Sarnadi menyebut sejumlah pameran yang membawanya ke Amsterdam, Rotterdam, Den Haag, Bergen, dan Warmenhuizen, serta berbagai kota dan negara lainnya, termasuk Belgia, Prancis, Jerman, Norwegia, Swiss, dan Swedia.
Di Amerika Serikat, karya-karyanya juga pernah dipamerkan di New York, Boston, dan kawasan Massachusetts.
Rentang perjalanan tersebut menjadi bagian dari upayanya membawa kebudayaan Betawi ke ruang seni yang lebih luas.
Bagi Sarnadi, Betawi bukan sekadar objek visual, melainkan sumber gagasan yang dapat terus ditafsirkan melalui seni rupa.
Karena itu, ia memandang perjalanan lima dekade berkaryanya sebagai proses panjang untuk menghadirkan seni lukis Betawi sebagai bagian dari perjalanan seni rupa Jakarta.
Sarnadi bahkan menyebut dirinya sebagai penemu atau pencipta seni lukis Betawi, dalam pengertian bahwa melalui karya-karyanya ia berupaya menghadirkan kehidupan dan kebudayaan Betawi secara konsisten ke dalam medium seni lukis.
"Yang saya lakukan adalah mengangkat objek-objek kebetawian. Dari yang tidak ada menjadi ada," kata Sarnadi dalam menggambarkan perjalanan panjang tersebut.
Baginya, seni lukis Betawi perlu terus dikembangkan agar tidak berhenti sebagai representasi visual kebudayaan, tetapi juga menjadi ruang ekspresi dan penciptaan bagi generasi penerus.
Museum untuk Generasi Muda
Di titik inilah museum menjadi penting bagi Sarnadi.
Ia ingin generasi muda tidak hanya mengenal Betawi melalui busana, musik, tari, kuliner, atau berbagai simbol budaya. Lebih dari itu, mereka diharapkan dapat memahami kehidupan, nilai, lingkungan, dan perjalanan masyarakat Betawi melalui karya seni.
Museum yang dibayangkannya dapat menjadi tempat pelajar melihat langsung karya, mempelajari teknik, memahami proses kreatif, sekaligus mengenal perjalanan sejarah seni lukis Betawi.
"Saya ingin supaya tidak hilang dan tetap abadi. Ada museumnya, sehingga orang tahu bahwa ada seni lukis Betawi yang diciptakan Sarnadi Adam," tuturnya.
Keinginan tersebut juga berkaitan dengan proses kaderisasi yang selama ini dilakukannya.
Setelah setengah abad berkarya, Sarnadi berharap semakin banyak pelukis muda yang mencintai objek-objek kebetawian dan menjadikannya sebagai sumber inspirasi.
Ia ingin generasi penerus tidak sekadar melihat Betawi sebagai identitas budaya, tetapi mampu menerjemahkan kehidupan masyarakat, lingkungan, tradisi, serta dinamika Jakarta ke dalam karya seni.
Dari Jakarta hingga Mancanegara
Lahir di Jakarta pada 27 Agustus 1956, Sarnadi mulai mengakrabi dunia seni rupa sejak usia muda.
Pendidikan seninya ditempuh di Yogyakarta sebelum kemudian memasuki dunia akademik sebagai pengajar seni rupa di Universitas Negeri Jakarta.
Kariernya sebagai perupa berkembang melalui berbagai pameran, baik di dalam maupun luar negeri. Karya-karyanya yang banyak merekam kehidupan Betawi kemudian membawanya ke berbagai ruang seni di Asia, Eropa, hingga Amerika Serikat.
Jejak pengabdiannya di dunia seni juga diikuti sejumlah penghargaan. Di antaranya penghargaan dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, penghargaan sebagai Dosen Teladan Universitas Negeri Jakarta, penghargaan Pelukis Terbaik DKI Jakarta, Satyalancana Karya Satya X Tahun dari Presiden RI pada 2000, serta penghargaan The Exclusive Figure in Asia 2003 dari Wakil Presiden RI.
Sarnadi juga pernah menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta pada periode 2009–2012 dan 2013–2015.
Setelah perjalanan panjang tersebut, ia kini ingin melengkapi catatan perjalanan hidup dan karya seninya.
Sebuah buku autobiografi tentang dirinya telah terbit pada 2012. Namun, menurut Sarnadi, buku tersebut perlu diperbarui karena perjalanan seninya terus berlangsung.
Rentang 2012 hingga 2026, misalnya, diwarnai berbagai pameran di luar negeri dan keterlibatannya dalam sejumlah agenda seni internasional di Eropa dan Asia.
"Perjalanan dari awal sampai tahun 2012 sudah ada. Tetapi 2012 sampai 2026 ada perjalanan lagi, termasuk pameran di mancanegara, pameran-pameran internasional, di Eropa dan Asia," ujarnya.
Karena itu, museum dan autobiografi menjadi dua bagian dari cita-cita yang ingin ia tinggalkan.
Jika museum menjadi ruang untuk melihat dan mempelajari karya, buku menjadi catatan perjalanan yang merekam proses panjang di balik karya-karya tersebut.
Pada usia 70 tahun dan setelah 50 tahun berkarya, Sarnadi tidak lagi semata-mata berbicara tentang perjalanan dirinya sebagai seorang pelukis. Ia mulai memikirkan bagaimana karya-karya yang telah dilahirkannya dapat terus hidup dan dikenal oleh generasi setelahnya.
Museum yang diimpikannya pun sederhana. Tidak perlu megah, cukup sekitar 200 meter persegi dengan dua lantai.
Namun, bagi Sarnadi, ruang yang sederhana itu dapat memiliki makna besar jika mampu menjadi tempat bertemunya karya, pendidikan, sejarah, dan generasi muda.
Di sanalah ia ingin meninggalkan sebagian karya terbaiknya, bukan sekadar sebagai koleksi, melainkan sebagai warisan seni untuk Jakarta.
Sebab, bagi Sarnadi, perjalanan 50 tahun berkarya pada akhirnya bukan hanya tentang berapa banyak lukisan yang telah dibuat, tetapi tentang bagaimana karya-karya tersebut tetap dapat berbicara kepada generasi yang akan datang.(*/hel)