Bima juga menekankan pentingnya menjadikan perspektif gender, inklusivitas, dan disabilitas sebagai bagian integral dalam perumusan kebijakan, bukan sekadar program tambahan.
“Ini tentang siapa yang mendapatkan akses, siapa yang terlibat, dan siapa yang menikmati manfaat pembangunan,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Bima menyoroti sejumlah praktik baik di berbagai daerah yang dinilai berhasil mengembangkan pendekatan inovatif. Yogyakarta disebut memiliki integrasi perencanaan dan penguatan kelembagaan yang baik, sementara Semarang dan Makassar mengedepankan pendekatan berbasis komunitas. Adapun Surabaya dinilai berhasil membangun layanan sosial yang terintegrasi.
Menurutnya, setiap daerah memiliki keunggulan masing-masing yang dapat menjadi inspirasi dan direplikasi oleh daerah lain.
“Yang penting bukan hanya programnya, tetapi sistem yang dibangun,” tegasnya.
Bima berharap pemerintah daerah terus memperkuat kapasitas kelembagaan, integrasi data, kolaborasi lintas sektor, serta partisipasi masyarakat guna mewujudkan pembangunan yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan di tengah tantangan perubahan iklim global.(Red)*
Komentar