Beranda
Seputar Publik / Berita

20 Tahun Studi Korea di UI, FIB UI Perkuat Peran Pendidikan dan Jembatan Indonesia-Korea

Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea FIB UI memasuki dua dekade perjalanan dengan memperluas kolaborasi akademik, industri, budaya, teknologi, dan hubungan Indonesia-Korea Selatan.
Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) memperingati 20 tahun perjalanan pendidikan dan kajian Korea di Indonesia melalui rangkaian kegiatan akademik dan kebudayaan di Depok, Jumat (28/8/2026). Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) memperingati 20 tahun perjalanan pendidikan dan kajian Korea di Indonesia melalui rangkaian kegiatan akademik dan kebudayaan di Depok, Jumat (28/8/2026).

Seputarpublik.com || DEPOK — Dua dekade perjalanan Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), menjadi momentum untuk merefleksikan perkembangan pendidikan dan kajian Korea di Indonesia sekaligus memperkuat peluang kolaborasi Indonesia dan Korea Selatan pada masa mendatang.

Memperingati usia ke-20, Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea FIB UI menggelar rangkaian kegiatan akademik dan kebudayaan di Auditorium Gedung 1 FIB UI, Depok, Jumat (28/8/2026).

Mengusung tema “함께한 20년, 함께할 미래” atau “20 Tahun Bersama, Masa Depan Bersama”, yang juga diterjemahkan dalam tema “20 Years of Korean Studies in Indonesia: Reflection and Future Collaboration”, kegiatan tersebut mempertemukan akademisi, mahasiswa, alumni, serta mitra strategis dari Indonesia dan Korea Selatan.

Perayaan tersebut tidak sekadar menjadi seremoni ulang tahun. Dua puluh tahun perjalanan program studi menjadi ruang refleksi atas berkembangnya hubungan Indonesia-Korea Selatan yang semakin luas, mulai dari pendidikan, ekonomi dan industri hingga budaya populer.

Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea FIB UI didirikan pada 16 Agustus 2006. Kehadirannya menjadi salah satu tonggak dalam pengembangan pendidikan bahasa, sastra, dan kebudayaan Korea di Indonesia.

Dekan FIB UI, Dr. Untung Yuwono, S.S., mengatakan keputusan membuka program studi Korea dua dekade lalu merupakan bentuk investasi akademik jangka panjang.

Menurutnya, ketika program studi tersebut didirikan, Korea Selatan tengah mengalami transformasi ekonomi dan industri yang pesat. Dua dekade kemudian, Korea Selatan tidak hanya dikenal sebagai kekuatan ekonomi, tetapi juga berkembang menjadi salah satu kekuatan budaya global.

> “Kami tidak sekadar mengantisipasi Korean Wave, melainkan membangun kapasitas akademik yang kritis, akademis, dan kontekstual,” ujar Untung.

Ia menilai perjalanan 20 tahun tersebut merupakan hasil kerja bersama yang melibatkan dosen, mahasiswa, alumni, dan berbagai mitra yang selama ini mendukung perkembangan studi Korea di FIB UI.

Lulusan Studi Korea Dinilai Menjadi Aset bagi Industri

Perkembangan studi Korea di Indonesia juga tidak dapat dilepaskan dari semakin kuatnya hubungan ekonomi kedua negara.

President Korean Chamber of Commerce and Industry in Indonesia (KOCHAM Indonesia), Lee Kang Hyun, menilai kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia industri menjadi semakin penting.

Menurutnya, ratusan perusahaan Korea beroperasi di Indonesia dan membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki kemampuan bahasa, tetapi juga memahami budaya serta karakter masyarakat Korea.

Kemampuan tersebut dinilai menjadi modal penting dalam membangun komunikasi dan kerja sama bisnis lintas negara.

Pandangan serupa disampaikan Director of Korea Foundation Jakarta Office, Lee Sang Hoon.

Ia menempatkan mahasiswa dan alumni studi Korea sebagai living bridges atau “jembatan hidup” yang dapat memperkuat hubungan antarmasyarakat Indonesia dan Korea Selatan.

Dengan kemampuan bahasa sekaligus pemahaman budaya, para lulusan dinilai memiliki posisi strategis dalam membangun saling pengertian dan hubungan antarmasyarakat kedua negara.

Dari Keterbatasan Pengajar hingga 8 dari 9 Dosen Bergelar Doktor

Perjalanan dua dekade Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea FIB UI juga memperlihatkan perkembangan kelembagaan.

Ketua Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea FIB UI, Euis Sulastri, S.Hum., M.A., Ph.D., mengatakan program studi tersebut pada awal berdirinya masih menghadapi keterbatasan, terutama dari sisi jumlah pengajar lokal.

Namun, kondisi tersebut perlahan berubah seiring dengan penguatan sumber daya manusia dan kelembagaan.

Saat ini, Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea FIB UI memiliki sembilan dosen tetap, dengan delapan di antaranya telah meraih gelar doktor. Selain itu, terdapat empat dosen kontrak atau PKWT yang turut memperkuat proses pendidikan.

Perkembangan tersebut menjadi modal bagi program studi untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus memperluas kerja sama akademik di tingkat nasional maupun internasional.

AI hingga Diplomasi Korea Selatan Dibahas

Perayaan 20 tahun juga dikemas melalui seminar akademik nasional yang menghadirkan sejumlah akademisi dari berbagai perguruan tinggi.

Pada sesi pertama, pembahasan berfokus pada linguistik, pengajaran, dan penerjemahan.

Achmad Rio Dessiar, Ph.D. dari Universitas Gadjah Mada (UGM) membahas perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam teknologi penerjemahan.

Sementara Fitri Meutia, Ph.D. dari Universitas Nasional (UNAS) memperkenalkan model pemanfaatan AI, termasuk ChatGPT dan Gemini, dalam pembelajaran bahasa Korea tingkat menengah.

Adapun Risa Triarisanti, S.Pd., M.Pd. dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) memaparkan perkembangan serta kolaborasi kelembagaan selama 11 tahun penyelenggaraan pendidikan bahasa Korea di UPI.

Sesi tersebut dimoderatori Dr. Fadhila Hasby, M.A.

Sementara sesi kedua mengangkat tema kajian studi Korea dengan perspektif yang lebih luas.

Getar Hati, Ph.D. dari FISIP UI membagikan pengalamannya dalam membangun platform Korea-Indonesia Connection (KIC).

Dian Novikrisna, S.Sos., M.I.S. dari BINUS University membahas posisi Korea Selatan sebagai kekuatan menengah atau middle power dalam percaturan diplomatik internasional.

Sementara Euis Sulastri memaparkan strategi pengembangan jejaring kemitraan akademik, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Sesi tersebut dimoderatori Dr. Rostineu, M.A.

Alumni Buktikan Studi Korea Membuka Beragam Peluang

Salah satu agenda yang mendapat perhatian dalam perayaan dua dekade tersebut adalah Talkshow Alumni bertajuk “Jejak Lulusan Studi Korea: Dari Kampus ke Dunia Profesional”.

Dipandu Eva Latifah, Ph.D., sesi tersebut menghadirkan tiga alumni dengan latar belakang karier yang berbeda.

Mereka adalah Silvi Fitri Ayu, alumni angkatan 2006 yang kini menjadi Tenaga Ahli Komisi II DPR RI sekaligus Analis Kebijakan Badan Supervisi Lembaga Penjamin Simpanan; Tania Triputri, alumni angkatan 2009 yang mendirikan dan memimpin TNT Translation; serta Vania Istamitra, alumni angkatan 2019 yang berkarier sebagai Head of Business Support di VIUUM Eyewear.

Ketiganya berbagi pengalaman mengenai perjalanan dari bangku kuliah menuju dunia profesional.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa kompetensi bahasa dan pemahaman budaya Korea tidak berhenti sebagai kemampuan akademik, tetapi dapat menjadi modal profesional yang diterapkan di berbagai bidang.

Dua Dekade Studi Korea dan Tantangan Masa Depan

Dua puluh tahun perjalanan akhirnya memperlihatkan perkembangan studi Korea di Indonesia yang tidak lagi terbatas pada pembelajaran bahasa.

Studi Korea telah menjadi ruang bertemunya pendidikan, budaya, diplomasi, industri, teknologi, dan jejaring masyarakat.

Melalui peringatan 20 tahun tersebut, Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea FIB UI menegaskan komitmennya untuk terus menjadi salah satu pusat pengembangan studi Korea di Indonesia.

Dengan memperkuat jejaring alumni lintas 20 angkatan dan membuka ruang kolaborasi baru, FIB UI berharap perjalanan dua dekade berikutnya tidak hanya menjadi kelanjutan sejarah, tetapi juga menjadi fondasi bagi hubungan Indonesia dan Korea Selatan yang semakin erat di masa depan.(*/hel)