Seputarpublik.com || PEKANBARU – Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) melalui Subholding PTPN IV PalmCo terus memperkuat kemitraan strategis dengan petani sebagai bagian dari upaya membangun industri kelapa sawit nasional yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan. Komitmen tersebut mendapat apresiasi dari Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) Indonesia, yang menilai pola kemitraan PTPN IV PalmCo layak menjadi role model pengembangan perkebunan sawit nasional.
Ketua DPP Aspekpir Indonesia, Setiyono, mengatakan masa depan sawit rakyat Indonesia sangat ditentukan oleh kemitraan yang sehat, transparan, dan saling menguntungkan antara petani, perusahaan, serta pemerintah. Menurutnya, pola kemitraan yang dijalankan PTPN IV PalmCo telah menunjukkan bagaimana hubungan tersebut mampu tumbuh secara inklusif dan berkelanjutan.
> "Produksi sawit petani meningkat karena kemitraan. Masa depan sawit rakyat Indonesia adalah kemitraan, dan bermitra dengan PTPN IV merupakan pilihan yang tepat," ujar Setiyono saat diskusi panel dalam rangkaian peluncuran buku Setiyono, Kisah dan Rahasia Sukses Petani Sawit Plasma Transmigrasi di Hotel Pangeran, Pekanbaru, Rabu (1/7/2026).
Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua Dewan Pengawas Aspekpir Indonesia sekaligus mantan Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan, Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo Arya Sandhiyuda, perwakilan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Togu Rudianto Saragih, Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sardjono, serta ratusan pengurus organisasi petani sawit dari berbagai daerah.
Setiyono menjelaskan bahwa melalui kemitraan, petani memperoleh pendampingan dalam menerapkan Good Agricultural Practices (GAP), mulai dari penggunaan bibit unggul bersertifikat, pengelolaan lahan, pemupukan, pengendalian hama, hingga teknik panen sesuai standar perusahaan.
Menurutnya, penerapan praktik budidaya yang baik menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas kebun sekaligus memperkuat daya saing industri sawit Indonesia di tengah tuntutan pasar global yang semakin mengedepankan aspek keberlanjutan.
Berdasarkan data Aspekpir Indonesia, program kemitraan melalui pola Perkebunan Inti Rakyat (PIR) maupun Kredit Koperasi Primer untuk Anggota (KKPA) kini tersebar di 20 provinsi dengan luas kebun plasma lebih dari 813 ribu hektare yang melibatkan sekitar 406 ribu kepala keluarga.
Sebagian besar kebun sawit rakyat tersebut kini telah memasuki generasi kedua sehingga memerlukan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) guna menjaga produktivitas. Aspekpir sendiri telah mendukung program revitalisasi perkebunan sejak 2012 dan melanjutkannya melalui Program PSR.
Salah satu keunggulan kemitraan bersama PTPN IV PalmCo, lanjut Setiyono, adalah penerapan pola single management, yaitu sistem pengelolaan terpadu mulai dari proses peremajaan, pemeliharaan, hingga panen berdasarkan standar operasional perusahaan.
Sistem tersebut mencakup penerapan operational excellence, penyetaraan produktivitas kebun inti dan plasma, pemberdayaan petani melalui program cash for works, penguatan kelembagaan petani, serta tata kelola yang transparan dan akuntabel.
Menurutnya, pendekatan tersebut mampu meningkatkan produktivitas kebun plasma hingga mendekati produktivitas kebun inti sekaligus memperkuat hubungan kemitraan yang profesional dan berkeadilan.
Ia juga menilai transformasi yang dilakukan PTPN IV PalmCo dalam beberapa tahun terakhir telah memberikan dampak positif terhadap hubungan perusahaan dengan petani, terutama melalui penguatan komunikasi, tata kelola, serta peningkatan fokus pada kesejahteraan pekebun plasma.
> "Kalau B50 ingin berhasil, maka produktivitas petani harus naik. Dan cara paling efektif untuk mewujudkannya adalah melalui kemitraan yang sehat antara petani dan perusahaan," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Supriadi, mengatakan pola kemitraan tersebut telah memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan petani sekaligus menggerakkan perekonomian di berbagai sentra perkebunan sawit di Provinsi Riau.
Menurutnya, hubungan antara Aspekpir dan PTPN IV PalmCo tidak hanya sebatas kerja sama bisnis, tetapi juga membangun ikatan sosial yang kuat di tengah masyarakat perkebunan.
Di sisi lain, Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo, Arya Sandhiyuda, menegaskan bahwa meningkatnya kebutuhan minyak sawit sebagai bahan baku pangan dan energi menjadikan kemitraan perusahaan dengan petani sebagai faktor strategis dalam menjaga keberlanjutan pasokan Crude Palm Oil (CPO) nasional.
Ia menjelaskan bahwa peningkatan produktivitas kebun rakyat melalui kemitraan akan memperkuat pasokan CPO domestik untuk mendukung implementasi program mandatori biodiesel B50 yang tengah dipersiapkan pemerintah.
> "Keberhasilan program B50 tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi perusahaan, tetapi juga pada kemampuan jutaan petani sawit rakyat dalam meningkatkan produktivitas serta mempercepat peremajaan kebun secara berkelanjutan," ujar Arya.
Dengan luas perkebunan rakyat yang mencakup lebih dari 40 persen total areal sawit nasional, petani memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan pasokan bahan baku industri pangan dan energi.
Melalui penguatan kemitraan yang saling menguntungkan, Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN IV PalmCo menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan produktivitas perkebunan rakyat, memperkuat ketahanan energi nasional, mendorong kesejahteraan pekebun, serta membangun ekosistem industri sawit Indonesia yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.(Adv)*