“Kebebasan pers itu adalah check and balance, itu untuk mengendalikan penguasa. Kebebasan pers yang dinamis, pers yang kalau perlu keras, terkadang sakit hati kita kalau baca, tetapi itu mengendalikan kita, itu memberi tahu kita there’s something wrong ada masalah di negara kita,” kata Prabowo di hadapan para jurnalis senior dan pengurus PWI Pusat.
Dia juga menyebut ada anggapan pers yang kuat berkorelasi dengan masyarakat yang sejahtera.
“Sering dikatakan suatu negara yang persnya kuat, tidak ada kelaparan. Itu salah satu, karena begitu ada kelaparan, langsung (diberitakan) kita tahu,” kata dia.
Prabowo pun mengakui posisinya saat ini hanya mungkin terwujud salah satunya karena pers yang sehat.
“Saya juga menikmati. Saya tidak mungkin di sini tanpa pers yang bebas. Partai saya bisa berkembang karena ada kebebasan pers,” kata Prabowo Subianto.
Prabowo pun mengakui dia juga menjadi bagian dari insan pers, mengingat saat ini dia turut andil dalam penerbitan majalah dan koran.
Prabowo tiba di Kantor Dewan Pers di Jakarta sekitar pukul 12.30 WIB untuk bertemu dan berdialog dengan pengurus PWI Pusat. Kedatangan Prabowo disambut oleh Ketua Umum PWI Pusat Hendri Ch Bangun.
Di dalam ruangan, Prabowo memaparkan visi, misi, dan programnya sebagai capres, kemudian dia menjawab beberapa pertanyaan dari pengurus PWI.
Pertanyaan-pertanyaan itu, selain soal sikap Prabowo terhadap demokrasi, juga soal program bagi-bagi susu dan kesetaraan gender.
Usai pertemuan yang berlangsung selama kurang lebih satu jam itu, Prabowo meninggalkan acara ditemani Ketua Umum PWI Pusat.
PWI merupakan organisasi wartawan pertama di Indonesia yang berdiri sejak 1946.
Komentar