Seputarpublik.com, JAKARTA -- Rendahnya literasi tentang Betawi serta pentingnya penguatan pengetahuan objek pemajuan kebudayaan menjadi perhatian serius Perkumpulan Betawi Kita.
Menjawab hal tersebut, bersama Lembaga Kebudayaan Betawi dan Forum Jurnalis Betawi, mereka menggelar BETAWI RE-WRITE: Workshop Penulisan Sejarah dan Budaya Betawi Berbasis Sejarah Lisan dan Digital Storytelling bertajuk “Menulis Sejarah, Merawat Ingatan” pada Selasa, (21/4/2026).
Bertempat di Lantai 4 Gedung Nyi Ageng Serang, Jakarta Selatan, kegiatan ini diikuti sekitar 20 peserta dari kalangan komunitas, praktisi, pelaku seni dan budaya, hingga sivitas akademika.
Para peserta diharapkan dapat menjadi agen pelestarian sejarah dan budaya Betawi.
Workshop ini sekaligus menjadi ruang temu bagi pegiat budaya, akademisi, dan jurnalis untuk menggali kembali ingatan kolektif masyarakat Betawi melalui pendekatan sejarah lisan dan digital storytelling.
Ketua Panitia Betawi Rewrite, Fadjriah Nurdiarsih, menjelaskan bahwa kegiatan ini terselenggara berkat dukungan program fasilitasi pemajuan kebudayaan dari pemerintah.
Ia menegaskan, pelatihan ini bertujuan memperkuat kapasitas penulisan sejarah berbasis pengalaman dan memori kolektif, khususnya dari sejarah lisan yang diperkuat dengan kajian akademik.
“Harapannya, peserta mampu menulis opini, feature, atau membuat konten digital yang mengangkat kembali ingatan keluarga dan komunitas. Jika dibukukan, ini bisa menjadi warisan berharga bagi generasi berikutnya,” ujar Fadjriah.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Banten, Swedhie Hananta, mengungkapkan bahwa DKI Jakarta tahun ini memperoleh fasilitasi kebudayaan di delapan titik dari total 26 penerima bantuan.
Ke depan, program tersebut akan dikelola oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Jakarta yang baru dibentuk.
Hal ini disambut Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan DKI Jakarta, Desse Yussubrasta, yang menyatakan pihaknya tengah memperkuat kelembagaan sekaligus mendorong kolaborasi lintas sektor dalam pelestarian budaya.
“Saat ini kami sedang menyiapkan kantor serta memperkuat fungsi pelestarian kebudayaan. Kolaborasi menjadi kunci,” katanya.
Dalam sesi materi, narasumber dari Lembaga Kebudayaan Betawi, Yahya Andi Saputra, mengkritisi pandangan yang menyederhanakan identitas Betawi sebagai produk kolonial semata.
“Betawi sering disebut sebagai suku ‘termuda’, padahal jejak sejarahnya jauh lebih panjang, bahkan sebelum Batavia,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kondisi sejumlah situs budaya yang masih memerlukan perhatian serius.
Menurutnya, temuan arkeologis menunjukkan adanya ratusan situs di kawasan Jakarta dan sekitarnya, meski banyak yang kini sulit ditelusuri akibat pembangunan modern.
Yahya menambahkan, kawasan pesisir hingga pedalaman seperti Marunda, Bekasi, dan wilayah utara Jakarta menyimpan jejak peradaban yang dipengaruhi kerajaan besar seperti Tarumanegara dan Sriwijaya.
“Betawi adalah hasil proses sejarah panjang, bukan sekadar konstruksi kolonial,” tegasnya.
Ia juga menyoroti karakter masyarakat Betawi yang egaliter. Menurutnya, masyarakat Betawi terbuka terhadap siapa pun, meski tetap memiliki struktur sosial yang muncul dalam konteks tertentu.
“Dalam keseharian mungkin tidak terlihat, tapi dalam acara adat ada peran tokoh alim, guru, dan masyarakat. Struktur itu ada, hanya tidak kaku,” jelasnya.
Sementara itu, Redaktur Budaya Harian Kompas, M.Hilmi Faiq, memaparkan perbedaan antara tulisan opini dan esai. Ia menjelaskan bahwa opini bersifat tegas dan argumentatif, sedangkan esai lebih reflektif dan membuka ruang dialog.
“Opini mendorong pembaca untuk setuju, sementara esai mengajak pembaca berpikir bersama,” katanya.
Ia menambahkan, esai memberi kebebasan dalam penggunaan gaya naratif dan metaforis sehingga mampu menghadirkan ruang diskursus yang lebih luas.
Adapun Agung Zainal Muttaqin Raden dari Universitas Indraprasta PGRI menekankan pentingnya storytelling dalam pelestarian budaya di era digital.
Ia menilai digitalisasi budaya harus dikemas secara kreatif, tidak sekadar memindahkan teks ke media digital.
“Cerita sejarah bisa menjadi konten bernilai tinggi jika dikemas dengan strategi kreatif dan visual yang menarik,” ujarnya.
Menurutnya, platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube memiliki karakter berbeda dalam penyajian konten, mulai dari format singkat hingga dokumenter panjang.
“Yang penting, cerita tetap otentik, meski dikemas ulang agar relevan dengan audiens masa kini,” tegasnya.
Kegiatan ini turut dihadiri Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi, Beky Mardani, dan Sekretaris Umum LKB, Imbong Hasbullah.
Dalam sambutannya, Beky menegaskan bahwa setiap kampung memiliki cerita yang layak ditulis dan diwariskan.
Ia juga mendorong agar kegiatan serupa terus diperbanyak agar narasi-narasi Betawi tidak hilang, melainkan terus berkembang di tengah perubahan zaman.
Melalui forum ini, para peserta diharapkan mampu menghadirkan kembali narasi-narasi Betawi yang selama ini terpinggirkan, sekaligus memperkuat identitas budaya di tengah arus digitalisasi yang kian cepat.(*/hel)