Seputar Publik / Berita

Dewan Pusat Pertimbangan Nasional Pemuda Panca Marga KRM. Drs.H. Syarif Abdullah Angkat Bicara soal Kedekatannya dengan Ayu Gembirowati 

Selain merupakan putra pejuang kemerdekaan , Abah Syarif juga merupakan veteran perang saat merebut Timor-Timor tahun 1975. Saat disinggung soal kedekatannya dengan dhewi ayu woelandari, yang kebetulan saat ini sedang dalam penataan pondasi kesemakmuran demi memperjuangkan hak kesejahteraan kaum kalah dan lemah, dalam hal ini,khususnya keluarga besar para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia/veteran , yang hidupnya di bawah garis kesejahtraan dengan melalui dana obligasi negara. ” Abah Syarif pun angkat bicara,,

“Sebagai putra dari pejuang kemerdekaan, Saya sangat senang mendengar kabar ini, dan tentunya saya juga harus mendukung dengan apa yang ibu dhewi (Dhewi Ayu woelandari) perjuangkan saat ini, kepedulian beliau dalam memperjuangkan hak-hak para pendiri bangsa dalam hal ini keluarga veteran, perlu mendapatkan apresiasi dan dukungan penuh dari seluruh komponen bangsa, bukan bangsa Indonesia saja, karena veteran itu juga menyangkut bangsa bangsa di dunia, jelas nya.

” Sejarah bangsa ini perlu diluruskan, karena generasi muda Indonesia sekarang ini sudah sangat memprihatinkan, karena sudah bnyak yang tidak tau akan sejarah yang sesungguhnya negara ini. Mereka lebih asik belajar tentang kekuasaan lewat partai politik ketimbang mereka mau belajar sejarah berdirinya negara ini. Tanpa ada pejuang kemerdekaan , tidak akan ada Negara ini,, Tidak ada yang namanya Indonesia. merekalah yang menorehkan darah dan air mata sehingga bisa berdiri bangsa ini, tegas Abah Syarif.

“Saat ini, banyak anak keturunan dari para veteran yang luput dari perhatian para penguasa. Sambung Abah Syarif.
“Harapan saya saat ini, semoga apa yang di perjuangkan ibu dhewi ayu woelandari cepat terwujud dan terlaksana. jaga persatuan dan kesatuan, jangan mudah di pecah belah oleh siapapun, musyawarah dan mufakat untuk mencapai keberhasilan yakni menuju masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 yang ASLI tanpa amandemen.

“Kepada bunda Dhewi saya harapkan harus tetap kuat dan semangat, semangat 45 tidak boleh padam, esa hilang dua terbilang mati satu tumbuh seribu. “Bhineka tunggal Ika Tan Hana darma mang Rwa  walaupun berbeda beda tetap satu tujuan, dan tidak ada pengabdian yang mendua. Pungkasnya.

(Rendy)

Tulis Komentar

Komentar