Ia menilai perkembangan teknologi membuat hampir semua perangkat mampu menghasilkan foto berkualitas. Namun, kualitas sebuah karya tetap ditentukan oleh kemampuan dan cara pandang fotografer.
"Saya bilang, foto bagus saja enggak cukup. Kamu harus bikin foto yang baik. Semua kamera sekarang bisa menghasilkan foto bagus, tapi yang bisa menghasilkan foto baik itu cuma orangnya. Mau pakai handphone, SLR, atau kamera pocket, hasilnya bisa bagus. Tapi baik atau tidak, itu tergantung siapa yang memotretnya," jelas Ferry.
Karena itu, ia menegaskan bahwa kepemilikan kamera profesional bukan lagi menjadi syarat utama untuk menghasilkan karya fotografi yang bernilai.
"Saya enggak punya kamera, cuma punya handphone. Enggak apa-apa, handphone zaman sekarang sudah canggih. Semua kamera bisa menghasilkan foto bagus," ujarnya.
Ferry berharap pelatihan fotografi semacam ini dapat terus digelar agar semakin banyak generasi muda memahami bahwa fotografi dapat menjadi media untuk merawat sekaligus mengenalkan budaya kepada masyarakat luas.
"Pelatihan seperti ini harus sering ada supaya anak-anak muda tahu motret itu buat apa. Enggak cuma selfie-selfie saja, tapi mereka bisa mendokumentasikan budaya, melestarikan budaya dari hasil jepretannya," tuturnya.
Ferry Ardianto: AI Membantu Teknis, tetapi Rasa Tetap Milik Manusia
Menanggapi perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), Ferry menilai kehadirannya dapat membantu pekerjaan yang bersifat teknis. Namun, ia meyakini AI tidak akan sepenuhnya menggantikan sentuhan rasa dan ekspresi manusia dalam menghasilkan sebuah karya.
"Kalau buat saya AI akan sangat membantu dalam konteks yang fungsional. Tapi dalam konteks ekspresi, enggak bisa, karena AI itu mesin, dia enggak punya perasaan. Yang punya perasaan kan kita," pungkasnya. (*/hel)
Komentar