Seputarpublik.com || JAKARTA, – Pemanfaatan limbah industri kelapa sawit sebagai sumber energi terbarukan semakin mendapat perhatian dalam agenda penguatan ketahanan energi nasional. Potensi tersebut sejalan dengan dorongan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang mengungkap peluang konversi limbah sawit menjadi energi listrik dengan kapasitas mencapai 3,9 Gigawatt (GW).
Kepala BRIN, Arif Satria, sebelumnya telah melaporkan potensi pengembangan energi alternatif tersebut kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam pertemuan di Istana Negara.
"Terkait potensi energi masa depan. Tadi kami juga melaporkan kepada Bapak Presiden sejumlah potensi energi yang dapat dikembangkan, salah satunya melalui pemanfaatan limbah sawit menjadi biogas," ujar Arif Satria.
Salah satu sumber energi alternatif yang dinilai potensial adalah Palm Oil Mill Effluent (POME), yakni limbah cair yang dihasilkan dari proses pengolahan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit.
Berdasarkan data yang dihimpun, potensi POME dari industri kelapa sawit di Indonesia mencapai sekitar 229,9 juta meter kubik per tahun.
BRIN mendorong agar potensi tersebut terus dikembangkan menjadi energi alternatif. Selain menghasilkan energi, pengolahan POME menjadi biogas juga dinilai penting untuk mengurangi pelepasan gas metana yang berkontribusi terhadap efek rumah kaca.
"Hal yang lebih penting adalah bagaimana biogas tersebut dapat dikonversi dan disimpan dalam tabung gas," tambah Arif.
PTPN IV PalmCo Kembangkan Energi Biogas Sejak 2012
Sejalan dengan arah kebijakan dan visi strategis pemerintah tersebut, PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV PalmCo) telah mengembangkan pemanfaatan limbah cair kelapa sawit menjadi energi alternatif sejak 2012.
Sebagai salah satu perusahaan perkebunan milik negara, PTPN IV PalmCo terus memperluas pemanfaatan gas metana dari pengolahan POME. Langkah ini ditujukan untuk menekan emisi sekaligus meningkatkan efisiensi biaya operasional pabrik kelapa sawit.
Inisiatif tersebut bermula ketika PTPN V, yang kini menjadi bagian dari PTPN IV PalmCo Regional III, memelopori pengoperasian Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) Tandun di Riau pada 2012.
Proyek perintis tersebut memperoleh pengakuan internasional setelah meraih ASEAN Energy Awards 2014 untuk kategori Off-Grid Power.
Keberhasilan itu kemudian dikembangkan melalui fasilitas PLTBg Terantam yang diresmikan pada periode 2019–2020 dan saat ini disebut telah beroperasi secara optimal.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menyampaikan bahwa dorongan pemerintah melalui BRIN menjadi momentum positif bagi industri kelapa sawit nasional untuk memperkuat pengelolaan operasional yang lebih ramah lingkungan.
"Upaya mengonversi limbah cair sawit menjadi energi alternatif telah menjadi bagian penting dari perjalanan transformasi PTPN IV PalmCo selama lebih dari satu dekade. Fokus utama dari inisiatif ini adalah mereduksi pelepasan emisi gas metana, sekaligus mendorong efisiensi perusahaan secara nyata. Melalui optimalisasi fasilitas PLTBg dan inisiatif co-firing, penggunaan bahan bakar solar untuk operasional genset pabrik dapat terus kami tekan hingga ke titik paling minimal," jelas Jatmiko.
Perluas Biogas Co-firing di Sejumlah Wilayah
Pengembangan pengolahan limbah POME di lingkungan PTPN IV PalmCo saat ini terus diperluas melalui program Biogas Co-firing atau PTBg.
Sejumlah fasilitas dan proyek pengembangan teknologi terus dilakukan, di antaranya proyek Biogas Co-firing Lubuk Dalam serta instalasi co-firing di wilayah Regional III, seperti Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Sei Rokan yang mulai beroperasi pada akhir 2025.
Transformasi energi tersebut tidak hanya diarahkan untuk mendukung pencapaian target penurunan emisi melalui proyek karbon, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap efisiensi biaya produksi perusahaan.
Berdasarkan keterangan perusahaan, pemanfaatan energi dari pengolahan limbah sawit berpotensi menghasilkan penghematan biaya energi hingga puluhan miliar rupiah serta menekan konsumsi solar hingga jutaan liter.
Upaya tersebut menjadi semakin relevan di tengah dinamika harga bahan bakar global dan kebutuhan industri terhadap sumber energi yang lebih efisien serta berkelanjutan.
Kembangkan Bio-CBG Bersama BRIN
Menjawab tantangan pengembangan teknologi penyimpanan biogas yang turut disoroti Kepala BRIN, PTPN IV PalmCo bersama BRIN saat ini juga tengah mengkaji pengembangan Bio-Compressed Biomethane Gas (Bio-CBG) berbasis limbah sawit.
Kajian tersebut diarahkan untuk mengembangkan teknologi pengolahan gas dari limbah kelapa sawit menjadi sumber energi alternatif yang dapat disimpan dan dimanfaatkan, dengan fungsi yang ditujukan menyerupai LPG.
Pengembangan Bio-CBG diharapkan membuka peluang pemanfaatan limbah sawit secara lebih optimal, tidak hanya untuk kebutuhan energi di lingkungan pabrik, tetapi juga sebagai bagian dari diversifikasi sumber energi nasional.
Melalui berbagai inovasi tersebut, PTPN IV PalmCo terus mendorong transformasi industri kelapa sawit menuju praktik operasional yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Optimalisasi POME, pengembangan fasilitas biogas, serta kajian Bio-CBG menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam mendukung pengurangan emisi sekaligus memperkuat kontribusi sektor perkebunan terhadap ketahanan energi nasional.(Redaksi.)*