Amar menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan festival tersebut.
Apresiasi disampaikan kepada Dinas Budparpora Kabupaten Dharmasraya, Rektor UNDHARI, Kapolres Dharmasraya, Kapolsek Koto Baru, LKAAM Kabupaten Dharmasraya, Pengurus Bundo Kanduang Kabupaten Dharmasraya, pengurus Bundo Kanduang tingkat kecamatan dan nagari, para wali nagari se-Dharmasraya, para peserta, panitia, tamu undangan, serta seluruh pihak yang turut mendukung kegiatan.
> “Terima kasih atas dukungan dan kebersamaan semua pihak. Festival ini bukan semata tentang siapa yang menjadi juara, tetapi tentang ikhtiar bersama menjaga agar dendang kasih Manjujai tidak hilang ditelan zaman,” kata Amar.
Melalui festival tersebut, Rumah Baca Marenda menegaskan bahwa makna literasi tidak berhenti pada aktivitas membaca buku.
Literasi juga dapat dimaknai sebagai upaya memahami akar budaya, merawat ingatan kolektif, serta mengenalkan nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi berikutnya.
Dalam konteks itu, Manjujai menjadi salah satu bentuk warisan budaya yang tidak hanya menyimpan keindahan seni tutur, tetapi juga mengandung pesan kasih sayang, doa, bahasa, pendidikan karakter, dan nilai kehidupan masyarakat Minangkabau.
Festival “Dendang Kasih, Warisan Budaya” akhirnya bukan hanya menjadi panggung perlombaan, melainkan ruang bersama untuk mempertemukan tradisi, keluarga, pendidikan, dan generasi muda dalam satu semangat: merawat warisan budaya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.(Red.)*
Komentar