Menurut Hadi, pendampingan dari PTPN IV telah berlangsung sejak 2013 dan terus berkembang hingga saat ini. “Dulu sawit hanya dipikir sebagai hasil kebun biasa. Kini kami mulai memahami bahwa dengan standar internasional, sawit bisa menjadi jalan menuju masa depan yang lebih baik,” tambahnya.
Pencapaian KUD Makarti Jaya disebut sebagai model awal atau *blueprint* yang akan diperluas ke koperasi lain di wilayah kerja PTPN IV. Saat ini, sejumlah KUD mitra lain di Regional III juga tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti proses sertifikasi serupa.
Bagian dari Strategi Nasional
Langkah strategis ini sejalan dengan arah transformasi industri sawit nasional yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga keberlanjutan. PalmCo, yang memegang peran penting dalam peta industri sawit nasional, menyatakan komitmennya untuk menjadikan kemitraan dengan petani sebagai bagian dari rantai pasok berkelanjutan.
Ke depan, PTPN IV PalmCo menargetkan lebih banyak petani mitra dapat mengakses sertifikasi berstandar internasional. Selain membuka peluang pasar global, langkah ini juga diharapkan mendukung ketahanan energi dan pangan nasional melalui penyediaan bahan baku minyak nabati yang berkelanjutan.
Dengan pencapaian ini, posisi petani sawit Indonesia di pasar global mulai menunjukkan kemajuan. Di tengah tekanan global terhadap industri sawit, keberhasilan petani di Rokan Hulu menunjukkan bahwa keberlanjutan dan produktivitas bisa berjalan seiring, selama ada dukungan dan pendampingan yang konsisten.
“Kami ingin tumbuh bersama petani. Sertifikasi ini bukan akhir, tetapi awal dari penguatan intensifikasi, kelembagaan, dan peningkatan kapasitas petani,” pungkas Jatmiko.
RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil) adalah organisasi nirlaba global yang menetapkan standar bagi produksi minyak sawit berkelanjutan. Sertifikasi RSPO menunjukkan bahwa produk sawit telah memenuhi kriteria keberlanjutan dari hulu ke hilir. (***)
Komentar