Salah satunya adalah Teras Sehat, sebuah area pemberdayaan lansia yang memadukan tanaman hidroponik, tanaman obat keluarga, serta budidaya ikan sebagai sumber protein. Selain itu, tersedia pula GLAM (Gym Lansia Aktif Mandiri), ruang aktivitas fisik ringan yang dirancang khusus untuk warga lanjut usia.
Bagi anak-anak, puskesmas ini juga menghadirkan Area Moana, ruang bermain edukatif yang dirancang untuk membantu perkembangan motorik anak.
Pramono mengaku terkesan dengan keterlibatan aktif kelompok lansia yang memanfaatkan fasilitas tersebut sebagai ruang interaksi sosial.
“Baru pertama kali saya melihat ada kelompok lansia, bahkan sampai usia 83 tahun, memanfaatkan puskesmas ini sebagai tempat berkumpul, berolahraga, sekaligus bersilaturahmi,” katanya.
Puskesmas Pembantu Meruya Selatan II juga telah menerapkan konsep Integrasi Layanan Primer (ILP), yakni sistem pelayanan kesehatan berbasis siklus hidup, mulai dari ibu dan anak, usia produktif, hingga lansia, dengan penguatan layanan promotif dan preventif.
Melalui konsep ini, pelayanan kesehatan tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pada pencegahan penyakit serta peningkatan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.
Saat ini, Pemprov DKI Jakarta memiliki 31 rumah sakit, 44 puskesmas kecamatan, dan 292 puskesmas pembantu yang tersebar di berbagai wilayah ibu kota. Pemerintah provinsi juga berencana menambah dua rumah sakit baru guna memperluas jangkauan pelayanan kesehatan.
“Itulah yang menjadi ujung tombak Pemerintah DKI Jakarta dalam memberikan pelayanan kesehatan terbaik bagi masyarakat,” ujar Pramono.
Puskesmas Pembantu Meruya Selatan II didukung oleh 17 tenaga kesehatan, terdiri dari dokter umum, dokter gigi, bidan, perawat, hingga tenaga pendukung lainnya untuk melayani empat RW di kawasan Meruya Selatan.
Selain penguatan fasilitas kesehatan, Pemprov DKI Jakarta juga terus menjalankan berbagai program prioritas seperti pemeriksaan kesehatan gratis, layanan kesehatan jiwa berbasis komunitas melalui JakCare, serta digitalisasi layanan kesehatan melalui JAKSIMPUS.
Di sisi lain, upaya penataan lingkungan sehat juga menunjukkan hasil positif. Pemprov DKI mencatat jumlah RW kumuh berhasil ditekan dari 445 RW pada 2017 menjadi 211 RW pada 2026, atau turun lebih dari 52 persen.(*/hel)
Komentar