Seputarpublik.com || JAKARTA – Industri kelapa sawit nasional menghadapi tantangan besar dalam lima tahun terakhir. Di tengah meningkatnya tuntutan global terhadap produk sawit berkelanjutan, produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Indonesia justru tercatat cenderung stagnan.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan pasokan bahan baku sawit nasional, terutama saat pemerintah tengah mempercepat program hilirisasi serta meningkatkan pemanfaatan biodiesel berbasis sawit menuju implementasi B50 pada 2026.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Eddy Martono, mengatakan stagnasi produksi menjadi tantangan paling mendesak yang kini dihadapi industri sawit nasional.
“Dalam lima tahun terakhir produksi kita stagnan. Pada 2025 memang ada kenaikan tipis. Produksi CPO sekitar 51,6 juta ton, dengan total produksi mencapai 56,5 juta ton. Padahal, seharusnya bisa menembus lebih dari 60 juta ton,” ujar Eddy dalam diskusi industri sawit di Jakarta.
Menurut Eddy, salah satu penyebab utama stagnasi adalah lambatnya pelaksanaan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), yang dinilai strategis untuk mengganti tanaman tua dengan bibit unggul yang lebih produktif.
Komentar