Seputarpublik.com || JAKARTA, — PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) PalmCo memperkuat strategi ekspor produk perkebunan Indonesia melalui kerja sama strategis dengan Direktorat Pengembangan Ekspor Produk Primer, Kementerian Perdagangan (Kemendag) Republik Indonesia. Kolaborasi tersebut ditujukan untuk memperluas akses pasar internasional sekaligus meningkatkan daya saing komoditas perkebunan nasional.
Kerja sama yang ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) ini menjadi bagian dari upaya PTPN IV PalmCo memperluas penetrasi pasar global, di tengah meningkatnya tuntutan terhadap standar keberlanjutan produk, termasuk melalui kebijakan European Union Deforestation Regulation (EUDR) Uni Eropa.
Selain memperkuat pasar yang sudah ada, sinergi tersebut diarahkan untuk mendorong transformasi bisnis PTPN IV PalmCo agar semakin mampu melakukan ekspor secara langsung kepada pembeli internasional (*direct exporter*).
Langkah ini diharapkan dapat memperkuat posisi produk perkebunan Indonesia dalam perdagangan global, sekaligus membuka peluang pasar baru bagi komoditas nasional.
ESG Jadi Strategi Memperkuat Daya Saing Global
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, sebelumnya menegaskan bahwa penerapan prinsip *Environmental, Social, and Governance* (ESG) tidak lagi sekadar menjadi bentuk pemenuhan kewajiban regulasi, tetapi juga bagian dari strategi perusahaan untuk meningkatkan daya saing di pasar internasional.
Menurutnya, kepatuhan terhadap standar keberlanjutan menjadi faktor penting bagi produk agrikultur Indonesia untuk menembus dan mempertahankan akses ke berbagai pasar dunia, termasuk Uni Eropa.
“Dalam hal ini, kinerja ESG tidak hanya tentang mengikuti aturan, tetapi juga menjamin akses pasar jangka panjang dan memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi bagi industri perkebunan nasional,” tegas Jatmiko K. Santosa.
Penerapan prinsip keberlanjutan tersebut menjadi salah satu aspek yang diperhatikan perusahaan dalam menghadapi perubahan persyaratan perdagangan internasional. Selain kepatuhan terhadap regulasi, kemampuan menjaga ketertelusuran produk juga menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan pembeli global.
Porsi Ekspor CPO Naik dari 1% Menjadi 10%
Direktur Pemasaran dan Sistem Manajemen PTPN IV, Rury C. Baskoro, menjelaskan bahwa kapasitas produksi yang besar perlu diimbangi dengan kemampuan memperluas pasar secara mandiri dan membangun hubungan langsung dengan pembeli internasional.
Ia menyebutkan, transformasi strategi pemasaran ekspor perusahaan mulai menunjukkan perkembangan. Pada 2024, porsi ekspor *crude palm oil* (CPO) atau minyak kelapa sawit mentah PTPN IV PalmCo tercatat sekitar 1% dari total penjualan.
Hingga September 2026, porsi tersebut meningkat menjadi sekitar 10%. Perusahaan pun menargetkan kenaikan porsi ekspor menjadi 25% pada 2027, dengan volume sekitar 759.000 ton.
“Transformasi fundamental ini sudah kami jalankan dan alhamdulillah mulai menunjukkan progres yang sangat baik. Jika pada tahun 2024 porsi ekspor CPO kami hanya sekitar 1% dari total penjualan, hingga September 2026 porsi ini sudah meningkat tajam menjadi 10%. Insya Allah, tahun depan kami menargetkan porsi ekspor mencapai 25%, atau kurang lebih sekitar 759.000 ton,” ujar Rury dalam sesi gelar wicara bertajuk *Indonesian Sustainable Palm Oil: Global Competitiveness and Expanding International Market* di ICE BSD.
Menurut Rury, peningkatan tersebut mencerminkan perubahan pendekatan perusahaan dalam mengembangkan bisnis ekspor. PTPN IV PalmCo berupaya membangun hubungan langsung dengan pembeli, perusahaan pemurnian minyak sawit (*refiners*), pedagang komoditas (*traders*), hingga pengguna akhir (*end-users*) di berbagai negara.
Strategi tersebut dijalankan dengan tetap memperhatikan kebutuhan dan prioritas pemenuhan pasokan domestik.
Target peningkatan ekspor ini diharapkan dapat memperluas jangkauan pasar perusahaan sekaligus memperkuat peran produk perkebunan Indonesia dalam rantai perdagangan internasional.
Hadapi Tantangan EUDR dengan Ketertelusuran dan Sertifikasi
Penerapan EUDR menjadi salah satu tantangan yang perlu diperhatikan oleh pelaku industri sawit yang memasok pasar Uni Eropa. Regulasi tersebut mengatur persyaratan terkait komoditas yang bebas deforestasi serta kewajiban uji tuntas bagi pelaku usaha yang tercakup di dalamnya.
Dalam konteks tersebut, ketertelusuran asal produk dan kepatuhan terhadap ketentuan keberlanjutan menjadi aspek penting untuk menjaga akses pasar.
Rury menyampaikan bahwa PTPN IV PalmCo memiliki karakteristik perkebunan dengan sejarah pengelolaan yang telah berlangsung sejak masa kolonial Belanda. Ia menilai faktor historis tersebut menjadi bagian dari penjelasan perusahaan mengenai kondisi lahan perkebunannya.
“Kebun kami adalah peninggalan Belanda. Jadi bisa dipastikan tidak ada aktivitas deforestasi baru, tidak ada okupasi lahan dari masyarakat, dan tidak ada pengambilan lahan dari hutan,” tegas Rury.
Perusahaan juga mengandalkan sertifikasi keberlanjutan, di antaranya *Indonesian Sustainable Palm Oil* (ISPO) dan *Roundtable on Sustainable Palm Oil* (RSPO), sebagai bagian dari upaya memperkuat tata kelola dan ketertelusuran produk.
Meski demikian, pemenuhan persyaratan pasar ekspor tetap perlu didukung dokumentasi dan verifikasi yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku di negara tujuan.
Kemendag Dorong Perluasan Pasar Sawit Indonesia
Kerja sama PTPN IV PalmCo dan Kemendag dirancang mencakup pengembangan ekspor dari sektor hulu hingga hilir. Kolaborasi tersebut meliputi lima komoditas perkebunan utama, yakni kelapa sawit, karet, kopi, teh, dan gambir.
Direktur Pengembangan Ekspor Produk Primer Kemendag RI, Miftah Farid, menyampaikan bahwa Indonesia perlu terus mengidentifikasi peluang pasar alternatif sekaligus memperkuat penetrasi ke negara-negara yang memiliki potensi permintaan.
Ia merujuk pada data *International Trade Centre* (ITC) melalui *Export Potential Map* yang menunjukkan adanya peluang pengembangan ekspor kelapa sawit Indonesia.
“Berdasarkan data ITC Export Potential Map, kelapa sawit kita memiliki potensi yang sangat besar untuk diekspansi. Selain memperkuat pasar yang sudah established melalui pendekatan G-to-G seperti di Tiongkok dan India, kita melihat peluang luar biasa di Pakistan dan Filipina,” ungkap Miftah.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan pasar sekaligus memperkuat hubungan perdagangan Indonesia dengan mitra internasional.
Diversifikasi pasar menjadi salah satu langkah yang dapat ditempuh untuk membuka peluang pertumbuhan ekspor, dengan mempertimbangkan kebutuhan pasar, persyaratan perdagangan, serta daya saing masing-masing komoditas.
Program Desa Bisa Ekspor Dorong Potensi Komoditas Daerah
Tidak hanya berfokus pada ekspor skala besar, kerja sama tersebut juga mencakup upaya memperluas manfaat ekonomi bagi daerah penghasil komoditas perkebunan.
Dalam kolaborasi ini, PTPN IV PalmCo disepakati untuk diintegrasikan ke dalam program prioritas Kemendag, yaitu “Desa Bisa Ekspor”.
Miftah menjelaskan bahwa sebagai proyek percontohan (*pilot project*), pemberdayaan produk akan difokuskan pada komoditas gambir di Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat.
Program tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan nilai ekonomi produk daerah, memperkuat kapasitas petani, serta mendorong peningkatan daya saing melalui standardisasi dan pengembangan hilirisasi komoditas.
Penguatan sektor hulu menjadi bagian penting karena keberhasilan ekspor tidak hanya ditentukan oleh akses pasar, tetapi juga oleh kualitas produk, konsistensi pasokan, pemenuhan standar, dan kemampuan pelaku usaha memenuhi kebutuhan pembeli internasional.
Melalui pendekatan tersebut, pengembangan ekspor diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat dan daerah penghasil komoditas.
Perkuat Kolaborasi untuk Ekspor Berkelanjutan
Kerja sama antara PTPN IV PalmCo dan Kemendag diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan perjanjian, tetapi berlanjut melalui langkah konkret, mulai dari pemetaan peluang pasar, fasilitasi pertemuan bisnis dengan pembeli internasional, hingga pengembangan kemitraan perdagangan jangka panjang.
Peningkatan volume ekspor, perluasan negara tujuan, serta penguatan standar keberlanjutan menjadi bagian dari upaya yang dapat mendukung daya saing komoditas perkebunan Indonesia.
Dengan target porsi ekspor CPO sebesar 25% pada 2027, PTPN IV PalmCo berupaya memperbesar kontribusi pasar internasional terhadap penjualan perusahaan. Di sisi lain, dukungan Kemendag diharapkan dapat membantu membuka peluang bagi berbagai komoditas perkebunan nasional untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Sinergi pemerintah dan pelaku usaha tersebut menjadi salah satu langkah dalam memperkuat posisi Indonesia di pasar global, sekaligus mendorong pengembangan ekspor yang memperhatikan keberlanjutan dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.(Red.)
**Seputarpublik.com — Tepat dan Berimbang.**