Beranda
Seputar Publik / Berita

RELIMA Goes to Campus di UNDHARI: Dari Kampus, Mahasiswa Didorong Gerakkan Literasi ke Masyarakat

Inovasi RELIMA Perpustakaan Nasional RI mengintegrasikan literasi ke ruang akademik dan kemahasiswaan untuk membekali mahasiswa menjadi penggerak literasi di tengah masyarakat.
RELIMA Goes to Campus di UNDHARI mendorong mahasiswa menjadi penggerak literasi, dari lingkungan kampus hingga ke tengah masyarakat. RELIMA Goes to Campus di UNDHARI mendorong mahasiswa menjadi penggerak literasi, dari lingkungan kampus hingga ke tengah masyarakat.

Seputarpublik.com || DHARMASRAYA – Gerakan literasi menemukan ruang baru untuk tumbuh di lingkungan perguruan tinggi. Di Universitas Dharmas Indonesia (UNDHARI), potensi kampus, organisasi kemahasiswaan, serta kekuatan mahasiswa dipadukan menjadi sebuah model gerakan yang tidak berhenti di lingkungan akademik, tetapi diarahkan untuk memperluas manfaat literasi hingga ke masyarakat.

Gagasan tersebut dikembangkan melalui “RELIMA Goes to Campus: Dari Kampus, Menggerakkan Mahasiswa, Menyalakan Literasi Masyarakat”, sebuah inovasi literasi yang digagas dan dikembangkan oleh Relawan Literasi Masyarakat (RELIMA) Perpustakaan Nasional RI bersama Assoc. Prof. Dr. Amar Salahuddin, M.Pd., di Universitas Dharmas Indonesia (UNDHARI), Dharmasraya, Sumatera Barat, Sabtu (19/9/2026).

RELIMA Goes to Campus tidak sekadar membawa kegiatan literasi ke lingkungan kampus. Program ini mengembangkan kampus sebagai simpul gerakan dan mahasiswa sebagai penggeraknya.

Literasi diintegrasikan ke berbagai ruang akademik dan kemahasiswaan yang telah berjalan. Mahasiswa dibekali, dilibatkan, kemudian didorong agar mampu memperluas manfaat literasi ke ruang masyarakat yang lebih luas.

Sejumlah agenda seperti Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB), Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa (LKMM), Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD) bagi mahasiswa calon guru, kegiatan BEM, UKM, organisasi kemahasiswaan, serta berbagai kegiatan akademik dan pembinaan mahasiswa menjadi ruang strategis untuk mengintegrasikan literasi.

Materi literasi juga disesuaikan dengan kebutuhan dan karakter sasaran. Materi tersebut mencakup literasi akademik dan digital, kemampuan membaca kritis, keterampilan menulis dan komunikasi, hingga kemampuan mengolah informasi serta gagasan menjadi karya dan aksi nyata.

Bukan Membuat Banyak Acara, tetapi Menghidupkan Banyak Ruang

Amar Salahuddin mengatakan, gagasan RELIMA Goes to Campus berangkat dari besarnya potensi perguruan tinggi yang dapat dioptimalkan sebagai kekuatan gerakan literasi.

Menurutnya, kampus memiliki mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, dosen, perpustakaan, BEM, UKM, organisasi kemahasiswaan, fasilitas, jejaring, hingga agenda rutin yang dapat menjadi bagian dari ekosistem untuk memperluas gerakan literasi.

«“Inovasinya bukan pada membuat sebanyak-banyaknya acara literasi. Kami justru ingin membuat literasi hadir di sebanyak-banyaknya ruang yang sudah hidup di kampus. Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi peserta; mereka perlu dibekali, dilibatkan, lalu digerakkan menjadi penggerak literasi,” ujar Amar.»

Amar yang juga merupakan Wakil Rektor III UNDHARI Bidang Kemahasiswaan, Alumni, Humas, dan Kerja Sama menyebut, pendekatan tersebut memungkinkan kegiatan literasi menjadi lebih adaptif terhadap kebutuhan mahasiswa.

Mahasiswa bidang kependidikan, kesehatan, teknologi maupun bidang ilmu lainnya tidak harus menerima bentuk literasi yang sama. Literasi dapat dikontekstualisasikan sesuai disiplin ilmu, kebutuhan, serta ruang aktivitas masing-masing.

Rektor UNDHARI: Kampus Harus Melahirkan Penggerak

Rektor UNDHARI, Assoc. Prof. Dr. Gunawan Ali, M.Kom., menyambut positif pengembangan RELIMA Goes to Campus.

Menurutnya, penguatan literasi merupakan bagian penting dalam membentuk mahasiswa yang kritis, kreatif, adaptif, sekaligus memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial.

«“Kami mendukung RELIMA Goes to Campus karena perguruan tinggi bukan hanya tempat memperoleh pengetahuan. Kampus juga harus menjadi tempat lahirnya generasi yang mampu membawa pengetahuan itu menjadi manfaat bagi masyarakat. Literasi menjadi salah satu fondasi penting untuk mewujudkannya,” ungkapnya.»

Dukungan tersebut tidak diarahkan berhenti pada kegiatan di lingkungan universitas. UNDHARI juga membuka ruang pengembangan gerakan melalui KKN Literasi serta penguatan pengabdian kepada masyarakat oleh dosen dan mahasiswa.

Kegiatan tersebut dapat menyasar sekolah, perpustakaan desa atau nagari, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), komunitas, serta berbagai simpul literasi lainnya.

Literasi Bukan Hanya Urusan Mahasiswa Bahasa

Sementara itu, Wakil Rektor I UNDHARI, Wulan Andang Purnomo, M.Kom., menilai pendekatan lintas disiplin menjadi salah satu kekuatan RELIMA Goes to Campus.

«“Kemampuan membaca secara kritis, menulis, mengolah informasi, dan mengomunikasikan gagasan dibutuhkan mahasiswa dari semua bidang ilmu. Karena itu, literasi tidak boleh dipandang hanya sebagai urusan mahasiswa bahasa. Ketika literasi terintegrasi dengan proses akademik dan pengembangan mahasiswa, manfaatnya menjadi jauh lebih luas,” tuturnya.»

Menurutnya, penguatan literasi juga memiliki hubungan erat dengan kualitas akademik mahasiswa. Kemampuan memahami sumber informasi, membangun argumentasi, menulis dengan baik, serta mengomunikasikan gagasan merupakan kompetensi yang dibutuhkan mahasiswa selama menempuh pendidikan tinggi maupun ketika terjun ke masyarakat.

Mahasiswa Merasakan Literasi yang Lebih Dekat

Bagi mahasiswa, model tersebut membuat literasi tidak lagi terasa sebagai aktivitas yang berdiri sendiri, tetapi hadir di ruang yang dekat dengan kehidupan mereka.

Mahasiswa UNDHARI, Mufid, mengungkapkan bahwa mahasiswa tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya literasi, tetapi juga memperoleh ruang untuk mengembangkan kemampuan dan terlibat secara langsung.

«“Kami tidak hanya diajak membaca atau mendengar materi. Kami dilatih menulis, menyampaikan gagasan, berkomunikasi, dan terlibat dalam kegiatan. Dari sini kami memahami bahwa mahasiswa juga bisa menjadi bagian dari gerakan literasi dan membawanya ke masyarakat,” ujarnya.»

Hal senada disampaikan Radhita. Menurutnya, literasi yang hadir melalui aktivitas mahasiswa membuat pesan dan praktik literasi lebih mudah diterima.

«“Literasi menjadi dekat dengan kehidupan kami. Bukan hanya tentang buku, tetapi bagaimana kami berpikir kritis, memahami informasi, berani menyampaikan gagasan, menghasilkan karya, dan kemudian memberi manfaat kepada orang lain,” katanya.»

Dari “Literasi untuk Mahasiswa” Menjadi “Literasi Bersama Mahasiswa”

RELIMA Goes to Campus juga ditopang oleh ekosistem yang tersedia di UNDHARI, mulai dari sumber daya dosen dan mahasiswa, perpustakaan, organisasi kemahasiswaan dan UKM Literasi, dukungan anggaran Bidang Kemahasiswaan dan UKM Literasi, fasilitas akademik, kendaraan operasional dan bus kampus, hingga 16 gedung asrama mahasiswa.

Sebagai kampus berasrama, UNDHARI memiliki potensi untuk menjadikan literasi bukan hanya bagian dari aktivitas di ruang perkuliahan, tetapi juga tumbuh dalam kehidupan sehari-hari dan interaksi mahasiswa.

Model RELIMA Goes to Campus relatif sederhana untuk dikembangkan. RELIMA membangun kolaborasi dengan perguruan tinggi, memetakan kebutuhan mahasiswa, mengintegrasikan literasi ke dalam agenda yang telah berjalan, membekali dan melibatkan mahasiswa, kemudian mendorong mahasiswa membawa praktik baik literasi menuju masyarakat.

Karena berbentuk model dan pendekatan, inovasi tersebut juga memungkinkan untuk diadaptasi oleh perguruan tinggi di daerah lain. Bentuk kegiatannya tidak harus sama.

Kampus kependidikan dapat memperkuat literasi sekolah, kampus kesehatan dapat mengembangkan literasi kesehatan, kampus teknologi dapat memperkuat literasi digital, sementara perguruan tinggi lainnya dapat menyesuaikan dengan bidang keilmuan dan kebutuhan masyarakat di daerah masing-masing.

Bagi Amar, tujuan akhirnya bukan sekadar memperbanyak kegiatan.

«“Kami ingin bergerak dari ‘literasi untuk mahasiswa’ menjadi ‘literasi bersama mahasiswa untuk masyarakat’. Kampus menjadi simpulnya, mahasiswa menjadi penggeraknya, dan masyarakat menjadi ruang tempat manfaat literasi itu diperluas,” tegasnya.»

Dari Dharmasraya, RELIMA Goes to Campus membawa gagasan bahwa gerakan literasi tidak selalu harus menciptakan ruang baru. Ruang-ruang yang sudah ada di lingkungan kampus dapat dihidupkan, dihubungkan, dan dikembangkan menjadi bagian dari gerakan literasi yang lebih luas.

Dibekali, dilibatkan, digerakkan. Mengabdi, lalu melahirkan penggerak berikutnya.

Semangat tersebut menjadi bagian dari RELIMA Goes to Campus UNDHARI dalam mendorong literasi bergerak dari lingkungan kampus menuju masyarakat.(Red.)*