“Kita harus terus berpegang pada nilai-nilai kita sebagai orang Indonesia, menjaga tata krama dan budaya. Teknologi tidak harus kita takuti, tetapi harus kita manfaatkan sebaik-baiknya dengan tetap menjaga nilai-nilai budaya kita,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan karena tantangan pengasuhan anak saat ini tidak hanya datang dari lingkungan sekitar, tetapi juga dari berbagai informasi yang dengan mudah masuk melalui perangkat digital.
Karena itu, orang tua dituntut bukan hanya memahami perkembangan anak, tetapi juga mampu menjadi pendamping yang hadir, terbuka, dan mampu membangun komunikasi yang sehat.
Buku Ketiga Rumah Pencerah
Dalam kesempatan tersebut, Sri Rahayu mengatakan 22 Hari Belajar Parenting merupakan buku ketiga yang lahir dari perjalanan Komunitas Rumah Pencerah.
Ia berharap buku tersebut tidak berhenti sebagai bacaan, tetapi dapat menjadi sarana berbagi pengalaman sekaligus menguatkan kepedulian terhadap pendidikan anak di Indonesia.
“Semoga ini menjadi berkah untuk kita semuanya. Terima kasih kepada para penulis yang luar biasa. Semoga menjadi amal,” kata Sri.
Menurut dia, pendidikan anak tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah. Keluarga, sekolah, masyarakat, serta lingkungan digital memiliki peran yang saling berkaitan dalam membentuk kualitas generasi mendatang.
Karena itu, peluncuran buku 22 Hari Belajar Parenting diharapkan menjadi bagian dari gerakan yang lebih luas untuk meningkatkan kesadaran orang tua mengenai pentingnya pendampingan anak.
Pada akhirnya, parenting bukan semata-mata tentang bagaimana orang tua mengajarkan sesuatu kepada anak. Lebih dari itu, parenting adalah proses belajar bersama—orang tua belajar memahami anak, sementara anak belajar mengenal dunia melalui kehadiran orang-orang terdekatnya.
Melalui buku 22 Hari Belajar Parenting, Rumah Pencerah ingin mengajak keluarga kembali pada satu hal yang sederhana tetapi fundamental hadir untuk anak, mendengarkan mereka, dan tumbuh bersama.(*/hel)
Komentar