Seputarpublik.com || JAKARTA — Komunitas Rumah Pencerah meluncurkan buku 22 Hari Belajar Parenting yang diterbitkan PT Erlangga sebagai sarana belajar bagi orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak di tengah perubahan zaman.
Kegiatan peluncuran buku tersebut berlangsung di Pendopo Joglo, kediaman Anies Baswedan, kawasan Lebak Bulus II Dalam, Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (1/9/2026).
Acara dihadiri pengurus dan anggota Komunitas Rumah Pencerah, sejumlah pendamping dan pemerhati pendidikan anak usia dini (PAUD), perwakilan mitra, perwakilan pemerintah DKI Jakarta, Lurah, Bu Camat, Tim Penggerak PKK, serta para pegiat pendidikan,
Ketua Komunitas Rumah Pencerah, Sri Rahayu, mengatakan buku 22 Hari Belajar Parenting lahir dari rangkaian kegiatan belajar bersama yang dilakukan selama bulan Ramadhan.
Menurut dia, buku tersebut dirancang agar orang tua tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai pengasuhan anak, tetapi juga memiliki ruang untuk melakukan refleksi terhadap peran mereka di dalam keluarga.
“Buku ini sebetulnya dari acara belajar bersama di bulan puasa selama 20 hari. Targetnya tentu orang tua,” ujar Sri dalam sambutannya.
Ia mengatakan, buku tersebut dikemas dalam bentuk cerita yang dilengkapi ilustrasi sehingga pesan mengenai parenting lebih mudah dipahami dan dekat dengan pengalaman sehari-hari orang tua.
Cerita dan ilustrasi di dalam buku, lanjut dia, diharapkan dapat menjadi contoh sekaligus bahan pembelajaran bagi orang tua dalam membangun hubungan yang lebih dekat dengan anak.
Salah satu pesan penting yang diangkat dalam buku tersebut adalah mengenai kehadiran orang tua.
Sri menilai, kehadiran secara fisik maupun emosional menjadi semakin penting ketika kehidupan anak dan orang tua kini tidak terlepas dari perkembangan teknologi serta media sosial.
Di tengah kemudahan berkomunikasi melalui dunia digital, orang tua justru berpotensi kehilangan kedekatan dengan anak di lingkungan keluarga.
“Kehidupan yang dekat kadang kita lupakan karena kita terlalu dekat dengan media sosial. Padahal yang hadir dalam keluarga dan kehidupan anak menjadi satu hal yang sangat penting,” katanya.
Menurut Sri, kehadiran orang tua dapat menciptakan ruang bagi anak untuk merasa aman, terbuka, dan nyaman menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapinya.
Dari hubungan tersebut, orang tua kemudian memiliki kesempatan lebih besar untuk membimbing anak agar tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
12 Tahun Rumah Pencerah
Sementara itu, Ketua Dewan Pembinaan Komunitas Rumah Pencerah, Fery Farhati, mengatakan komunitas tersebut telah berdiri selama sekitar 12 tahun.
Komunitas Rumah Pencerah didirikan pada 2014 oleh sejumlah pemerhati PAUD bersama Fery Farhati. Awalnya, gerakan tersebut tumbuh dari kepedulian terhadap lingkungan pendidikan anak usia dini di sekitar tempat tinggal.
“Rumah Pencerah ini berdiri dari keinginan untuk menciptakan lingkungan yang baik bagi tumbuh kembang anak di sekitar rumah kita,” ujar Fery.
Seiring berjalannya waktu, gerakan tersebut berkembang karena semakin banyak orang yang ingin terlibat. Rumah Pencerah kemudian menjadi ruang belajar sekaligus wadah pemberdayaan bagi orang tua dan tenaga pendidik PAUD.
Berbagai pelatihan dan kegiatan pembelajaran pun dilakukan untuk meningkatkan kapasitas orang tua maupun pendidik dalam mendampingi anak.
Fery mengatakan perkembangan komunitas tersebut menjadi hal yang membanggakan. Saat ini, pengelolaan kegiatan semakin banyak melibatkan generasi muda.
“Sekarang mungkin saya tidak banyak terlibat karena lebih pada pengawasan dan memberikan ruang kepada anak muda untuk bergerak selanjutnya,” tuturnya.
Menjaga Nilai di Tengah Era Digital
Fery juga menekankan pentingnya orang tua membekali anak dengan nilai-nilai yang kuat di tengah derasnya perkembangan teknologi.
Menurut dia, teknologi dan media sosial tidak seharusnya selalu dipandang sebagai ancaman. Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mendukung proses pendidikan dan perkembangan anak.
Namun, pemanfaatan teknologi tetap harus disertai dengan pendampingan dan nilai-nilai yang menjadi pijakan keluarga.
“Kita harus terus berpegang pada nilai-nilai kita sebagai orang Indonesia, menjaga tata krama dan budaya. Teknologi tidak harus kita takuti, tetapi harus kita manfaatkan sebaik-baiknya dengan tetap menjaga nilai-nilai budaya kita,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan karena tantangan pengasuhan anak saat ini tidak hanya datang dari lingkungan sekitar, tetapi juga dari berbagai informasi yang dengan mudah masuk melalui perangkat digital.
Karena itu, orang tua dituntut bukan hanya memahami perkembangan anak, tetapi juga mampu menjadi pendamping yang hadir, terbuka, dan mampu membangun komunikasi yang sehat.
Buku Ketiga Rumah Pencerah
Dalam kesempatan tersebut, Sri Rahayu mengatakan 22 Hari Belajar Parenting merupakan buku ketiga yang lahir dari perjalanan Komunitas Rumah Pencerah.
Ia berharap buku tersebut tidak berhenti sebagai bacaan, tetapi dapat menjadi sarana berbagi pengalaman sekaligus menguatkan kepedulian terhadap pendidikan anak di Indonesia.
“Semoga ini menjadi berkah untuk kita semuanya. Terima kasih kepada para penulis yang luar biasa. Semoga menjadi amal,” kata Sri.
Menurut dia, pendidikan anak tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah. Keluarga, sekolah, masyarakat, serta lingkungan digital memiliki peran yang saling berkaitan dalam membentuk kualitas generasi mendatang.
Karena itu, peluncuran buku 22 Hari Belajar Parenting diharapkan menjadi bagian dari gerakan yang lebih luas untuk meningkatkan kesadaran orang tua mengenai pentingnya pendampingan anak.
Pada akhirnya, parenting bukan semata-mata tentang bagaimana orang tua mengajarkan sesuatu kepada anak. Lebih dari itu, parenting adalah proses belajar bersama—orang tua belajar memahami anak, sementara anak belajar mengenal dunia melalui kehadiran orang-orang terdekatnya.
Melalui buku 22 Hari Belajar Parenting, Rumah Pencerah ingin mengajak keluarga kembali pada satu hal yang sederhana tetapi fundamental hadir untuk anak, mendengarkan mereka, dan tumbuh bersama.(*/hel)