Dukungan datang dari Suku Dinas Kebudayaan Jakarta Selatan, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Jakarta, serta dari Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB).
Selain itu, IISIP Jakarta juga meluncurkan gerakan sosial “Infak Sedekah Sampah” bersamaan dengan acara tersebut. Gerakan ini bertujuan mengajak warga kampus memanfaatkan sampah sebagai sarana amal dan pemberdayaan lingkungan.
“Melalui program infaq sedekah sampah, kita ingin ajak warga kampus untuk melihat bahwa sampah bukan masalah, tapi peluang dan amal,” ujar Rektor IISIP Jakarta, Ilham P. Hutasuhut.
Selain seni dan gerakan sosial, kegiatan ini juga melibatkan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) warga Betawi yang menghadirkan kuliner tradisional, termasuk kerak telor dan camilan khas lainnya. Mahasiswa bisa menikmati makanan sambil menyaksikan pertunjukan budaya secara langsung.
Budaya Harus Tampil
Kehadiran seni Betawi di kampus membuka ruang baru agar budaya lokal tidak sekadar dikenang, tetapi dihidupkan ulang. Bachtiar menilai kampus merupakan tempat strategis untuk menjangkau generasi yang selama ini mengenal budaya lewat layar ponsel.
“Mungkin banyak mahasiswa yang tahu budaya Betawi lewat medsos. Tapi dengan acara ini mereka bisa menyentuh langsung dan memahami maknanya,” pungkasnya.
Melalui pendekatan edukatif dan interaktif, pagelaran ini membuktikan bahwa seni tradisional tetap relevan. Apalagi ketika dikemas secara kontekstual dan dekat dengan isu sosial seperti lingkungan dan UMKM.
Dengan menggandeng komunitas, pemerintah, dan kampus, Sanggar Si Pitung Rawa Belong menunjukkan bahwa pelestarian budaya bukan hanya soal pentas, tetapi strategi jangka panjang untuk menjaga identitas daerah di tengah arus globalisasi.
(*/hel)
Komentar