Seputarpublik.com || JAKARTA — Layanan bus sekolah antar-jemput gratis bagi peserta didik penyandang disabilitas yang dikembangkan Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi DKI Jakarta berhasil masuk dalam 10 besar nominasi Jakarta Innovation Award (JIA) 2026 yang diselenggarakan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi DKI Jakarta.
Inovasi tersebut bernama SAPA DISA (Sistem Antar Jemput Peserta Didik Disabilitas), sebuah layanan Bus Sekolah Ramah Disabilitas yang menyediakan transportasi gratis, aman, nyaman, dan aksesibel bagi peserta didik penyandang disabilitas.
SAPA DISA menerapkan pola point-to-point, yakni menjemput peserta didik dari rumah atau titik yang disepakati bersama orang tua menuju sekolah, kemudian mengantarkannya kembali setelah kegiatan belajar selesai.
Saat ini, layanan tersebut telah beroperasi secara berkelanjutan dengan melayani 9 Sekolah Luar Biasa (SLB) dan rata-rata sekitar 150 peserta didik setiap hari.
Masuk 10 Besar JIA 2026
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta, Budi Awaluddin, mengatakan masuknya SAPA DISA dalam 10 besar JIA 2026 menjadi apresiasi sekaligus motivasi bagi pihaknya untuk terus meningkatkan kualitas layanan transportasi bagi penyandang disabilitas.
> “SAPA DISA lahir dari kebutuhan masyarakat. Ini bukan sekadar menyediakan bus, tetapi memastikan peserta didik penyandang disabilitas memiliki akses mobilitas yang aman dan nyaman untuk bersekolah,” kata Budi, Selasa (18/8/2026).
Menurutnya, keberadaan layanan tersebut diharapkan dapat membantu peserta didik memperoleh akses transportasi yang sesuai dengan kebutuhan mereka dalam menjalani aktivitas pendidikan.
Dilengkapi Fasilitas Aksesibilitas
SAPA DISA didukung armada yang dilengkapi berbagai fasilitas aksesibilitas, antara lain lift chair, sistem pengunci kursi roda (wheelchair restraint), guide block, handrail, lantai antiselip, tombol darurat, sabuk pengaman, CCTV, GPS, AC, serta sistem informasi visual dan audio.
Fasilitas tersebut dirancang untuk mendukung kebutuhan peserta didik selama perjalanan menuju maupun dari sekolah.
Bagi peserta didik, layanan tersebut juga dinilai membantu perjalanan menjadi lebih nyaman serta mendukung ketepatan waktu ke sekolah.
> “Rasanya senang, petugasnya baik, terus bisa naik bus sekolah bareng teman-teman dan aku jadi enggak telat lagi,” ujar Azka, siswa SLB Pembina Tingkat Nasional.
Manfaat layanan juga dirasakan orang tua. Selain membantu memenuhi kebutuhan transportasi anak, layanan tersebut dinilai memberikan kemudahan karena perjalanan sekolah dapat dilakukan secara lebih teratur.
> “Saya bisa menghemat biaya transportasi sekolah karena sekarang sudah menggunakan bus sekolah gratis,” ungkap Roro Shanti, orang tua siswi SLB D-DI YPAC Jakarta.
Membantu Siswa yang Berdomisili Jauh
Dari sisi sekolah, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SLB Pembina Tingkat Nasional, Agus Budiyanto, mengatakan layanan Bus Sekolah membantu peserta didik yang berdomisili jauh dari sekolah.
Menurutnya, layanan tersebut membantu peserta didik tiba di sekolah lebih cepat sehingga dapat mengikuti kegiatan belajar dengan lebih siap.
> “Dengan adanya layanan bus sekolah, anak-anak kami yang berdomisili jauh dari sekolah dapat dilayani dan datang lebih cepat ke sekolah,” imbuh Agus.
Pelaksanaan SAPA DISA diperkuat melalui kolaborasi antara Dinas Perhubungan dengan Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, Sekolah Luar Biasa, komunitas penyandang disabilitas, serta orang tua peserta didik.
Budi mengatakan manfaat yang dirasakan langsung oleh peserta didik, keluarga, dan sekolah menjadi salah satu faktor penting dalam keberlanjutan inovasi tersebut.
Dorong Transportasi Jakarta yang Inklusif
Masuknya SAPA DISA dalam 10 besar JIA 2026 menjadi bagian dari apresiasi terhadap inovasi pelayanan publik yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Layanan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menghadirkan sistem transportasi yang semakin inklusif dan mendukung akses pendidikan bagi peserta didik penyandang disabilitas.
> “Kami ingin memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam mendapatkan pendidikan hanya karena keterbatasan akses transportasi,” tegas Budi.
Dengan konsep layanan antar-jemput yang aksesibel, SAPA DISA diharapkan dapat terus dikembangkan untuk mendukung kebutuhan mobilitas peserta didik penyandang disabilitas sekaligus memperkuat ekosistem transportasi publik yang inklusif di Jakarta.(/hel)*