“Hal ini menunjukkan bahwa komunikasi informal tetap menjadi faktor penting dalam proses pengambilan keputusan pemilih,” kata Togu.
Dia merinci, tingginya elektabilitas pasangan Dendi Suryadi dan Alif Turiadi dapat dijelaskan melalui beberapa faktor. Pertama, tingkat kesukaan masyarakat yang sangat tinggi, mencapai 78,8%.
“Selain itu, survei mencatat bahwa 70,2% masyarakat Kutai Kartanegara berharap adanya pemimpin baru yang dapat membawa perubahan. Dua faktor ini menjadi alasan kuat yang mendasari tingginya elektabilitas pasangan Dendi Suryadi dan Alif Turiadi,” paparnya.
Dijelaskan, hasil survei ini mencerminkan perubahan sentimen yang signifikan di kalangan masyarakat Kutai Kartanegara. Di mana pasangan calon Dendi Suryadi dan Alif Turiadi dianggap sebagai simbol harapan masyarakat untuk memperoleh pemimpin yang dapat memberikan inovasi dan perubahan yang dibutuhkan.
Secara keseluruhan, lanjutnya, masyarakat tampaknya menginginkan seorang pemimpin yang mampu memberikan solusi nyata bagi tantangan yang dihadapi daerah. Terutama dalam bidang pertanian dan infrastruktur, guna meningkatkan kualitas hidup mereka.
Jumlah sampel yang terlibat dalam survei ini mencapai 1.400 responden, yang tersebar di 18 kecamatan di Kabupaten Kutai Kartanegara. Survei ini memiliki margin of error sebesar ±2,62% dan tingkat kepercayaan mencapai 95%.
“Angka ini menunjukkan bahwa hasil survei dapat diandalkan untuk menggambarkan preferensi pemilih di wilayah tersebut,” demikian Togu.
Pengamat politik Nahdaltul Ulama Rikal Dikri menilai, hasil survei ini menyatakan bahwa Edi Damansyah dan Rendi Solihin sebagai pasangan calon petahana sangat rapuh. “Sangat berpotensi di kalahkan,” kata Rikal.
Menurutnya, ada sejumlah indikator mengapa petahana bisa kalah. Pertama, kesukaan pemilih terhadap petahana dibawah 55% dari pemilih yang kenal kepada petahana kedua kepuasaan terhadap kinerja Edi Damansyah-Rendi Solihin sebagai bupati dan Wakil bupati dibawah dibawah 30 persen.
“Ketiga, pemilih yang ingin Edi Damansyah – Rendi Solihin kembali menjabat sebagai bupati dan Wakil bupati periode berikut hanya dibawah 35% persen,” pungkasnya.
Komentar