Seputarpublik.com || BANDUNG – Universitas YARSI terus memperkuat kontribusinya dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui inovasi berbasis teknologi. Kali ini, tim dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis menghadirkan solusi Smart Packaging berbasis QR Code bagi Kelompok Wanita Tani (KWT) Mawar 07 di Desa Mandalamekar, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.
Program yang merupakan bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Hibah Universitas YARSI Tahun Anggaran 2025/2026 tersebut bertujuan meningkatkan nilai tambah sekaligus daya saing produk sayuran organik hasil petani lokal melalui kemasan yang lebih informatif, modern, dan mampu membangun kepercayaan konsumen.
Kegiatan bertema "Teknologi Smart Packaging Solusi Nilai Tambah Produk Sayuran Organik Petani Lokal" dipimpin oleh Rini Hidayati, S.E., M.M. selaku Ketua Tim PKM, bersama Andri Gunawan, S.Pd.I., B.A. (Hons), M.Phil., serta Elan Suherlan, S.Si., M.Si. sebagai narasumber. Program ini juga melibatkan enam mahasiswa lintas program studi dan dua tenaga kependidikan Universitas YARSI.

Kemasan Menjadi Media Informasi dan Kepercayaan Konsumen
Selama ini, produk sayuran organik yang dipasarkan KWT Mawar 07 masih menggunakan kemasan plastik polos tanpa identitas maupun informasi produk. Kondisi tersebut dinilai membatasi daya saing sekaligus nilai tambah produk di pasar.
Melalui program ini, Universitas YARSI memperkenalkan konsep Smart Packaging, yaitu kemasan yang dilengkapi QR Code. Saat dipindai menggunakan telepon pintar, konsumen dapat mengakses berbagai informasi, mulai dari proses budidaya, jaminan mutu produk, profil kelompok tani, hingga foto dan video edukasi.
QR Code tersebut juga terhubung dengan laman resmi Desa Mandalamekar sehingga konsumen dapat mengenal lebih jauh potensi pertanian desa serta aktivitas Kelompok Wanita Tani Mawar 07.
> "Melalui Smart Packaging, kami ingin menunjukkan bahwa kemasan bukan sekadar pembungkus, tetapi juga menjadi media komunikasi yang mampu membangun kepercayaan konsumen terhadap produk organik petani lokal," ujar Ketua Tim PKM Universitas YARSI, Rini Hidayati.
Dorong Daya Saing Produk Organik Lokal
Ketua KWT Mawar 07, Mira Nurlailah, menyambut positif program pendampingan tersebut. Menurutnya, inovasi yang diperkenalkan tidak hanya menambah wawasan anggota kelompok, tetapi juga memberikan keterampilan yang dapat langsung diterapkan dalam kegiatan usaha sehari-hari.
Ia berharap penggunaan Smart Packaging mampu meningkatkan daya tarik sekaligus nilai jual berbagai hasil panen organik, seperti sawi, bayam, kangkung, dan selada yang menjadi produk unggulan kelompok.
Program ini juga mendapat dukungan Pemerintah Desa Mandalamekar. KWT Mawar 07 merupakan salah satu pelaku usaha binaan BUMDes yang selama ini fokus pada budidaya dan pemasaran sayuran organik.
Pendampingan Intensif Selama Delapan Bulan
Sebagai tindak lanjut, tim PKM Universitas YARSI akan memberikan pendampingan selama delapan bulan yang mencakup pemilihan bahan kemasan, penyusunan desain label, pembuatan QR Code, hingga simulasi pemasaran digital berbasis web agar produk memiliki jangkauan pasar yang lebih luas.
> "Teknologi tidak sesulit yang kita bayangkan. Kami siap mendampingi Bapak dan Ibu sekalian hingga sukses menerapkannya di usaha masing-masing," kata Elan Suherlan saat menutup sesi pelatihan.
Kolaborasi Akademisi dan Masyarakat
Program ini juga menjadi sarana pembelajaran langsung bagi mahasiswa Universitas YARSI. Enam mahasiswa dari Program Studi Akuntansi, Manajemen, dan Teknologi Informasi terlibat dalam penyusunan modul, dokumentasi kegiatan, hingga monitoring pelaksanaan pelatihan di lapangan.
Kolaborasi lintas disiplin tersebut diharapkan semakin memperkuat sinergi antara dunia akademik dan masyarakat dalam menghadirkan solusi nyata bagi pengembangan ekonomi desa.
Melalui pendekatan partisipatif, Universitas YARSI berharap penerapan Smart Packaging dapat menjadi standar baru pengemasan produk KWT Mawar 07. Selain meningkatkan nilai tambah dan memperkuat identitas merek, inovasi ini juga diharapkan membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk pertanian organik Desa Mandalamekar.
Program tersebut turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), sekaligus memperkuat peran BUMDes dalam mendorong ekonomi kreatif berbasis pertanian di tingkat desa.(*/hel)