Beranda
Seputar Publik / Berita

100 Tahun Ali Sadikin: Budayawan Ungkap Warisan Besar Bang Ali yang Menjadikannya Gubernur Paling Visioner dalam Sejarah Jakarta

Diskusi publik di Taman Ismail Marzuki menegaskan peran Ali Sadikin dalam mengangkat budaya Betawi sebagai identitas Jakarta melalui kebijakan, pembangunan lembaga kebudayaan, serta penguatan seni, bahasa, dan tradisi yang tetap relevan hingga kini.
Budayawan, akademisi, dan pegiat budaya mengenang 100 tahun kelahiran Ali Sadikin dalam diskusi di Taman Ismail Marzuki. Kepemimpinan Bang Ali dinilai menjadi tonggak penting dalam menjadikan budaya Betawi sebagai identitas utama Jakarta. Budayawan, akademisi, dan pegiat budaya mengenang 100 tahun kelahiran Ali Sadikin dalam diskusi di Taman Ismail Marzuki. Kepemimpinan Bang Ali dinilai menjadi tonggak penting dalam menjadikan budaya Betawi sebagai identitas utama Jakarta.

Seputarpublik.com || JAKARTA – Peringatan 100 tahun kelahiran Ali Sadikin menjadi momentum untuk kembali mengenang warisan kepemimpinan gubernur legendaris DKI Jakarta yang dinilai berhasil menempatkan budaya Betawi sebagai identitas utama ibu kota. Berbagai kalangan budayawan menilai Ali Sadikin bukan hanya memiliki visi besar, tetapi juga mampu mewujudkan gagasan kebudayaan menjadi kebijakan yang berdampak nyata bagi masyarakat.

Pandangan tersebut mengemuka dalam Diskusi Publik bertema "Sinergi Kerja Kebudayaan Menuju Lima Abad Jakarta: Memperkuat Bahasa, Tradisi, dan Identitas Kota" yang digelar di Galeri Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Minggu (12/7/2026).

Diskusi menghadirkan budayawan Betawi Sem Haesy dari Akademi Jakarta, Yoyo Muchtar, Sekretaris Jenderal Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) Imbong Hasbullah, akademisi sekaligus seniman Fauziah Shahab, serta Hikmiyyah Salsabila dari komunitas Historia Batavia. Acara dipandu jurnalis Muhammad Sulhi Rawi dari Forum Jurnalis Betawi.

Budayawan Betawi Sem Haesy menilai keistimewaan Ali Sadikin terletak pada kemampuannya mengubah gagasan menjadi kebijakan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

> "Bang Ali menghadirkan Betawi, bukan cuma membicarakannya," ujar Sem Haesy.

Menurutnya, setiap gagasan mengenai pengembangan budaya selalu ditindaklanjuti melalui langkah konkret. Salah satunya adalah upaya memodernisasi seni Lenong agar lebih mudah diterima masyarakat luas.

Ia menjelaskan, Ali Sadikin pernah meminta Wahyu Sihombing bersama Dewan Kesenian Jakarta menyusun konsep teatrikal yang lebih kuat bagi pertunjukan Lenong. Sentuhan dramaturgi tersebut membuat kesenian tradisional Betawi berkembang dari hiburan rakyat menjadi pertunjukan yang tampil di Taman Ismail Marzuki hingga disiarkan melalui TVRI.

Pada dekade 1970-an, Lenong bahkan mencapai masa keemasannya dengan hadirnya tokoh-tokoh seperti Bokir dan Nasir yang dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.

Sementara itu, Yoyo Muchtar menilai keberhasilan Ali Sadikin tidak terlepas dari karakter kepemimpinannya yang disiplin, tegas, dan menjunjung tinggi integritas.

Sebagai mantan aparatur sipil negara pada masa kepemimpinan Ali Sadikin, Yoyo mengaku menyaksikan langsung komitmen Bang Ali dalam menolak praktik korupsi maupun penyimpangan dalam pembangunan Jakarta.

> "Disiplinnya luar biasa. Beliau selalu mengatakan negara hanya bisa maju kalau disiplin ditegakkan. Bang Ali juga tidak pernah memberi ruang terhadap korupsi dalam proyek pembangunan," ungkapnya.

Ia menambahkan, perhatian Ali Sadikin tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga menyentuh berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari penataan lingkungan permukiman, administrasi kependudukan, hingga fasilitas pemakaman.

Dalam kesempatan yang sama, Fauziah Shahab menyebut Institut Kesenian Jakarta (IKJ) sebagai salah satu warisan terbesar Ali Sadikin di bidang seni dan kebudayaan.

Menurutnya, IKJ telah melahirkan banyak seniman, budayawan, dan insan kreatif yang berkontribusi besar terhadap perkembangan seni Indonesia.

> "IKJ menjadi kawah candradimuka lahirnya banyak seniman terbaik bangsa. Itu merupakan warisan luar biasa dari Bang Ali," ujarnya.

Fauziah menilai Ali Sadikin layak dikenang sebagai salah satu gubernur terbaik yang pernah dimiliki Jakarta karena memiliki visi kebudayaan yang jauh melampaui zamannya.

Di sisi lain, Sekretaris Jenderal Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), Imbong Hasbullah, mengatakan peringatan satu abad kelahiran Ali Sadikin menjadi momentum penting untuk memperkuat kembali sinergi pelestarian budaya Betawi.

Menurutnya, berbagai lembaga yang lahir pada masa kepemimpinan Ali Sadikin, seperti Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), dan Akademi Jakarta, kini kembali membangun kolaborasi dalam memperkuat bahasa, tradisi, dan identitas budaya Jakarta.

> "Momentum ini harus dijaga agar sinergi kerja kebudayaan dalam memperkuat bahasa, tradisi, dan identitas Jakarta terus berkembang," kata Imbong.

Sementara itu, Hikmiyyah Salsabila dari Historia Batavia menyoroti pentingnya literasi budaya bagi generasi muda.

Menurutnya, minat generasi muda terhadap budaya Betawi sebenarnya cukup tinggi. Namun, mereka masih menghadapi keterbatasan akses terhadap sumber pembelajaran sejarah dan budaya yang memadai.

Karena itu, ia menilai kolaborasi antara komunitas budaya, akademisi, media, dan pelaku seni menjadi langkah penting agar pengetahuan mengenai sejarah dan budaya Betawi dapat diwariskan secara benar di tengah derasnya arus informasi digital.

Diskusi tersebut menegaskan bahwa warisan Ali Sadikin tidak hanya berupa pembangunan fisik maupun lembaga kebudayaan, tetapi juga berupa visi besar yang menempatkan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan Jakarta.

Sejak membuka Pralokakarya Penggalian dan Pengembangan Seni Budaya Betawi pada 1976, Ali Sadikin telah meletakkan dasar kuat bagi pelestarian budaya Betawi sebagai identitas ibu kota. Lima dekade kemudian, gagasan tersebut dinilai tetap relevan dalam menghadapi tantangan pelestarian budaya di era modern.

Peringatan 100 tahun kelahiran Ali Sadikin menjadi pengingat bahwa kepemimpinan visioner tidak hanya dikenang melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui nilai, gagasan, dan warisan kebudayaan yang terus hidup serta diwariskan kepada generasi penerus. (Icoel)*