Beranda
Seputar Publik / Berita

Ahli Jepang Isamu Sakamoto Serahkan Bibit Pohon Sae di Jakarta, Pondok Budaya Betawi Rorotan Bangkitkan Literasi Daluang

Kolaborasi konservasi dan budaya di Jakarta hidupkan kembali kertas daluang berbahan paper mulberry sebagai warisan literasi Nusantara.
Ahli konservasi Jepang Isamu Sakamoto serahkan bibit pohon sae di Jakarta. Pondok Budaya Betawi Rorotan hidupkan kembali kertas daluang sebagai warisan literasi Nusantara. Rabu, (18/2/2026). Ahli konservasi Jepang Isamu Sakamoto serahkan bibit pohon sae di Jakarta. Pondok Budaya Betawi Rorotan hidupkan kembali kertas daluang sebagai warisan literasi Nusantara. Rabu, (18/2/2026).

Seputarpublik.com, JAKARTA — Isamu Sakamoto, ahli konservasi dan peneliti kertas asal Jepang, menyerahkan bibit pohon sae (paper mulberry) kepada Pondok Budaya Betawi Rorotan dalam kunjungan budaya yang berlangsung Rabu (18/2/2025).

Kunjungan tersebut menjadi momentum strategis dalam memperkuat gerakan literasi berbasis kearifan lokal dan konservasi sumber daya alam Indonesia, khususnya pengembangan kembali kertas tradisional daluang.

Prof. Sakamoto, yang telah lebih dari 30 tahun meneliti kertas tradisional Nusantara, hadir didampingi Lilis Setyawati dari Museum Kebaharian Jakarta dan rombongan. Kedatangannya disambut langsung oleh pendiri Pondok Budaya Betawi Rorotan, KH Ahmad Mukhlis Fadlil.

Menurut KH Ahmad Mukhlis Fadlil, kunjungan tersebut bukan sekadar silaturahmi budaya, tetapi menjadi awal kolaborasi jangka panjang dalam penguatan literasi berbasis tradisi.

> “Kehadiran beliau bukan hanya sebagai tamu, melainkan mitra yang akan memperkuat pondasi budaya dan literasi Pondok melalui warisan daluang,” ujarnya.

Dukungan Tokoh dan Komunitas Betawi

Acara tersebut turut dihadiri Ketua Bamus Suku Betawi 1982 Jakarta Utara Moch Ichwan Ridwan, anggota Dewan Kota Jakarta Utara Radian Azhar, serta pengurus Forum Komunikasi Mahasiswa Betawi (FKMB). Kehadiran para tokoh dan komunitas ini mencerminkan kuatnya dukungan terhadap pelestarian warisan budaya Betawi berbasis literasi.

Penyerahan Bibit Pohon Sae

Dalam kesempatan itu, Prof. Sakamoto secara simbolis menyerahkan bibit pohon sae kepada Pondok Budaya Betawi Rorotan. Pohon sae, yang dikenal secara internasional sebagai paper mulberry, merupakan bahan utama pembuatan kertas daluang.

Pondok Budaya Betawi Rorotan tercatat sebagai komunitas pertama di Indonesia yang menerima bibit pohon sae langsung dari Prof. Sakamoto sebagai bagian dari upaya konservasi berkelanjutan.

Menghidupkan Kembali Kertas Daluang

Kertas daluang dibuat dari kulit pohon sae yang diolah melalui proses tradisional. Serat kayu dikuliti, dicuci, dikeringkan, lalu dipukul atau dikempa hingga melebar dua hingga tiga kali dari ukuran awal. Proses ini menghasilkan kertas dengan serat kuat dan tahan lama.

Secara historis, daluang telah dikenal sejak abad ke-9. Dalam naskah kuno Kakawin Ramayana, daluang disebut sebagai bahan pakaian para pandita. Pada masa berikutnya, daluang digunakan sebagai media naskah suci, penutup kepala (ketu), hingga media seni pertunjukan seperti Wayang Beber.

Memasuki era Islam di Nusantara, daluang semakin berkembang sebagai media literasi dan dokumentasi keagamaan.

Literasi Berbasis Alam dan Tradisi

Sinergi antara ilmu konservasi modern dan tradisi lokal melalui pelestarian pohon sae serta penghidupan kembali daluang menegaskan peran Pondok Budaya Betawi Rorotan sebagai pusat literasi budaya berbasis alam.

Langkah ini tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga membangun kesadaran generasi muda terhadap pentingnya literasi yang berakar pada sejarah dan kekayaan hayati Nusantara. {Hel}*