Seputar Publik / Berita

Anak Betawi Mendunia, dari Rawa Belong hingga Finlandia!

Pesannya sederhana tapi kuat:

 “Jangan pernah merasa paling pintar supaya terus mau belajar, dan jangan merasa paling kaya supaya terus mau bekerja.”

Dr. Eng. Ismail: Dari Rawa Belong ke Negeri Sakura

Cerita inspiratif juga datang dari Dr. Eng. Ismail, ahli nuklir asal Rawa Belong yang kini berkarier di Jepang.

  “Teknologi tinggi seperti nuklir memang berisiko besar, tapi di situlah tantangannya,” ujarnya.

Ia menilai Indonesia punya banyak SDM hebat di bidang energi nuklir, hanya perlu dukungan kebijakan.

  “Kalau energi kita stabil, bersih, dan mandiri, Indonesia akan lebih berdaulat,” katanya.

Pesannya kepada anak Betawi begitu membekas:

   “Tinggalkan stigma jago kandang. Saya anak pedagang bunga dari Rawa Belong, tapi Alhamdulillah bisa jadi insinyur. Kuncinya belajar dan jaga adab di mana pun kita berada.”

Permata MHT: Menyatukan, Bukan Berpolitik

Ketua I Permata MHT H. Beky Mardani mengaku bangga melihat kiprah anak-anak Betawi di luar negeri.

   “Kita patut bersyukur karena diaspora Betawi kini ada di mana-mana. Mereka membawa nama baik Jakarta ke dunia internasional,” ujarnya.

Sementara H.M. Nuh, Ketua Harian Permata MHT, menegaskan bahwa Permata bukan wadah politik.

   “Permata didirikan bukan untuk politik atau komersial, tapi untuk menyatukan orang-orang Betawi. Kita harus tetap kompak dan menjaga marwah,” tegasnya.

Ia menambahkan, selama masyarakat Betawi rukun dan bersatu, maka Betawi akan tetap berdiri tegak.

   “Politik boleh, tapi jangan sampai memecah. Insya Allah, selama kita berpadu, Betawi akan selalu kuat,” katanya.

FGD ini dihadiri perwakilan Korwil Permata MHT dari lima wilayah kota Jakarta dan Kepulauan Seribu, serta jajaran pengurus DPP Permata MHT, di antaranya H. Supli Ali (Sekjen), H. Hamzah (Bendahara Umum), H. Naman Setiawan, H. Yusron Sjarief, H. Tanto Tabrani, Syahril, serta tokoh dan seniman Betawi H. Sarnadi Adam dan Hj. Tonah.(hel)

Tulis Komentar

Komentar