Seputarpublik.com || JAKARTA – Mantan Gubernur DKI Jakarta periode 2007–2012, Fauzi Bowo (Bang Foke), menilai warisan terbesar Ali Sadikin bukan hanya pembangunan fisik Ibu Kota, melainkan keberhasilannya menempatkan kebudayaan sebagai hak publik yang harus dijamin negara. Menurutnya, cara pandang tersebut menjadi fondasi penting yang membuat Jakarta berkembang sebagai kota modern tanpa kehilangan identitas budayanya.
Pernyataan itu disampaikan Bang Foke saat menjadi pembicara dalam Memorial Lecture penutup rangkaian peringatan 100 Tahun Ali Sadikin yang berlangsung pada 7–14 Juli 2026.
Menurut Foke, sejak memimpin Jakarta pada 1968, Ali Sadikin telah memandang kebudayaan sebagai public good atau barang publik yang memiliki kedudukan sejajar dengan layanan pendidikan dan kesehatan.
> "Kebudayaan adalah barang publik. Tidak harus mendatangkan keuntungan, tetapi wajib ada," ujar Bang Foke, Selasa (14/7/2026).
TIM Jadi Simbol Kebebasan Berkesenian
Foke menjelaskan, prinsip tersebut diwujudkan melalui pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai pusat kesenian Jakarta.
Ia mengisahkan, gagasan mendirikan TIM lahir dari keprihatinan Ali Sadikin setelah kawasan Senen tidak lagi menjadi pusat aktivitas para seniman. Karena itu, pemerintah membangun ruang kreativitas di bekas Kebun Binatang Cikini yang kemudian berkembang menjadi salah satu pusat seni dan budaya terbesar di Indonesia.
Menurut Foke, Ali Sadikin meyakini tugas pemerintah adalah menyediakan ruang, fasilitas, dan ekosistem bagi para seniman, tanpa mencampuri proses kreatif mereka.
> "Pemerintah tidak boleh ikut campur. Biarkan seniman merdeka dalam mencipta," kenangnya.
Karena itu, TIM dinilai bukan sekadar kompleks gedung pertunjukan, melainkan simbol keberpihakan pemerintah terhadap kebebasan berekspresi dan penguatan ekosistem kebudayaan.
Ali Sadikin Dinilai Berjasa Menyelamatkan Budaya Betawi
Selain membangun ruang kesenian, Bang Foke menilai Ali Sadikin memiliki kontribusi besar dalam menjaga keberlangsungan budaya Betawi.
Menurutnya, pada masa itu belum banyak pemimpin yang memberikan perhatian serius terhadap pelestarian budaya masyarakat asli Jakarta.
Salah satu langkah strategis yang dilakukan Ali Sadikin adalah menginisiasi berdirinya Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB), yang hingga kini menjadi salah satu pilar pelestarian budaya Betawi.
> "Saya gembira Bang Ali mengambil inisiatif mendirikan Lembaga Kebudayaan Betawi. Dengan kepemimpinan beliau dan meningkatnya kesadaran masyarakat Betawi terhadap budayanya sendiri, budaya Betawi tetap tumbuh dan berkembang di Jakarta yang terus berubah," tutur Foke.
Ia menambahkan, Ali Sadikin juga memberikan ruang bagi berkembangnya media dan komunitas kebudayaan dengan tetap menjaga independensi para pelaku seni.
Pemimpin Visioner yang Berpikir Melampaui Zamannya
Dalam pandangan Foke, Ali Sadikin merupakan pemimpin visioner yang memiliki cara berpikir jauh melampaui zamannya.
Selain memberi perhatian besar pada sektor kebudayaan, Ali Sadikin juga dikenal sebagai pelopor penggunaan komputer di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada 1969 serta menyusun master plan pembangunan Jakarta secara komprehensif.
> "Kalau beliau sudah yakin dengan suatu gagasan, beliau akan mempertahankannya secara konsisten," ujar Foke.
Ia juga mengusulkan agar Memorial Lecture Ali Sadikin dijadikan agenda tahunan sebagai bagian dari perjalanan Jakarta menuju usia lima abad.
Dorong Penghargaan Lebih Besar bagi Ali Sadikin
Pada akhir pemaparannya, Foke menyampaikan masukan terhadap penyelenggaraan pameran dokumentasi 100 Tahun Ali Sadikin di Taman Ismail Marzuki.
Menurutnya, dokumentasi yang ditampilkan masih dapat disempurnakan agar lebih mencerminkan besarnya jasa Ali Sadikin dalam membangun Jakarta. Ia berharap pengumpulan arsip sejarah dilakukan lebih komprehensif, termasuk menelusuri dokumen dari luar negeri apabila diperlukan.
Foke juga mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mengusulkan Ali Sadikin untuk memperoleh gelar Pahlawan Nasional. Apabila usulan tersebut disetujui pemerintah, ia berharap dapat digelar pameran dokumentasi berskala besar di Balai Kota Jakarta sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan kontribusi Bang Ali.
Menurutnya, penghargaan terhadap sejarah dan tokoh-tokoh yang berjasa akan semakin memperkuat identitas Jakarta sebagai kota yang modern sekaligus berakar pada nilai-nilai budaya.
> "Bagi saya, sampai hari ini tidak ada simbol yang lebih kuat menggambarkan visi kebudayaan Bang Ali selain Taman Ismail Marzuki," pungkasnya. (*/hel)