Seputar Publik / Berita

Dailami Firdaus Minta Abang None Jakarta Dievaluasi, Tekankan Nilai Agama, Adab dan Adat Betawi

Anggota DPD RI Dapil DKI Jakarta itu menilai Abang None bukan sekadar ajang pemilihan figur, tetapi juga ruang untuk menjaga dan memperkenalkan jati diri serta nilai budaya Betawi.
Dailami Firdaus meminta konsep penyelenggaraan Abang None Jakarta dievaluasi agar representasi budaya Betawi tidak berhenti pada simbol, tetapi tetap berakar pada nilai Agama, Adab dan Adat. Dailami Firdaus meminta konsep penyelenggaraan Abang None Jakarta dievaluasi agar representasi budaya Betawi tidak berhenti pada simbol, tetapi tetap berakar pada nilai Agama, Adab dan Adat.

Pertama, melakukan evaluasi menyeluruh terhadap konsep dan kriteria pemilihan Abang None Jakarta.

Kedua, menetapkan standar representasi budaya Betawi yang berlandaskan pada nilai Agama, Adab, dan Adat.

Ketiga, melibatkan ulama, tokoh adat, budayawan, serta lembaga kebetawian sejak tahap perencanaan hingga proses penilaian.

Menurut Dailami, keterlibatan para pemangku kepentingan kebudayaan tersebut penting agar representasi Betawi dalam ajang Abang None tidak berhenti pada aspek seremonial dan simbolik.

«“Abang None jangan hanya beratribut Betawi, tetapi harus memahami, menghormati, dan mampu membawa nilai-nilai Betawi,” tegasnya.»

Jakarta Kota Global, Betawi Tetap Berakar

Dailami mengatakan, perkembangan Jakarta sebagai kota global tidak semestinya membuat identitas budaya lokal kehilangan tempat.

Menurut dia, keterbukaan Jakarta terhadap dunia justru perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga akar budaya masyarakatnya.

«“Kita ingin Jakarta menjadi kota global, modern, dan terbuka. Tetapi menjadi global bukan berarti kehilangan akar,” katanya.»

Ia berharap Abang None Jakarta ke depan dapat menjadi salah satu ruang strategis untuk memperkenalkan Jakarta sekaligus menghadirkan nilai-nilai budaya Betawi kepada masyarakat luas.

Dengan demikian, figur Abang dan None tidak hanya memiliki kemampuan tampil sebagai representasi Jakarta, tetapi juga memahami budaya yang menjadi bagian penting dari sejarah dan identitas kota tersebut.

«“Jakarta boleh mendunia, tetapi Betawi jangan kehilangan jati dirinya. Agama dijaga, Adab dijunjung, dan Adat dilestarikan,” ujar Dailami.»(/hel)*

Tulis Komentar

Komentar