Di balik sebuah jawaban yang baik, sesungguhnya terdapat proses intelektual yang panjang: membaca, meragukan, mencari pembanding, menemukan kesalahan, memperbaiki, dan akhirnya memahami.
Proses itulah yang membentuk seorang pembelajar.
Generative AI mengubah lanskap tersebut secara drastis. Sebuah pertanyaan dapat menghasilkan jawaban dalam hitungan detik. Konsep yang sulit dapat dijelaskan dengan bahasa sederhana. Artikel dapat diringkas, kerangka tulisan dapat dibuat, bahkan sebuah esai dapat dihasilkan tanpa mahasiswa mengalami seluruh pergulatan intelektual yang sebelumnya menjadi bagian dari pengalaman belajar.
Di satu sisi, ini merupakan peluang besar.
Bagi mahasiswa UT yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, AI dapat berfungsi seperti “tutor pribadi 24 jam”. AI dapat membantu menjelaskan konsep, memberikan contoh, menjadi teman berdiskusi, serta membuka akses terhadap berbagai kemungkinan sumber pengetahuan.
Dalam konteks pemerataan pendidikan, kemampuan tersebut tentu tidak dapat dipandang sebelah mata.
Namun, persoalannya bukan semata-mata apakah mahasiswa boleh menggunakan AI.
Komentar