Seputarpublik.com || TANGERANG -- Socrates pernah gelisah terhadap penemuan tulisan. Dalam Phaedrus, Plato menggambarkan kekhawatiran bahwa ketika pengetahuan dapat disimpan di luar diri manusia, seseorang berisiko tampak berpengetahuan tanpa benar-benar memahami.
Bagi Socrates, pengetahuan bukan sekadar sesuatu yang dapat disimpan, melainkan sesuatu yang harus dihidupkan melalui proses berpikir, bertanya, berdialog, dan menguji diri.
Lebih dari dua ribu tahun kemudian, kegelisahan serupa hadir dalam bentuk yang jauh lebih canggih: kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Jika tulisan memungkinkan manusia menyimpan pengetahuan di luar kepalanya, AI kini mampu melakukan jauh lebih banyak. Teknologi ini dapat membantu mencari informasi, merangkum bacaan, menjelaskan konsep, menerjemahkan bahasa, membandingkan teori, menyusun argumen, bahkan menghasilkan esai dalam hitungan detik.
AI bukan lagi sekadar tempat menyimpan pengetahuan. Ia mampu memproses dan menyajikannya kembali dengan cara yang tampak seolah-olah sedang berpikir bersama manusia.
Komentar