Menurutnya, pelatihan ini merupakan kelengkapan pesyarakat tempat pengelolaan pangan, diberikan pada SPPG yang mengajukan permohonan untuk terbitnya sertifikast Laik hygiene sanitasi (SLHS). Salahsatu syaratnya penjamah makanan atau pengelola pangan harus bersertifat pelatihan keamanan pangan siap saji yang diikuti minimal 50 persen karyawan untuk setiap dapur MBG.
” Terkait hasilnya akan dilanjutkan setelah beroperasi dengan inspeksi kesehatan lingkungan termasuk pemeriksaan air oleh tim labkesda,” ujar Windarti.
Lanjut Windarti, pelatihan ini penting untuk mengenali pencemaran pangan dan penyakit bawaan pangan agar bisa mencegah pencemaran ini masuk dalam makanan yang diolah. Selain itu, juga memperhatikan faktor lingkungan yang sehat dengan memahami pemeliharaan lingkungan kerja serta menegendalikan faktor pengaruh lingkungan dan binatang yang dapat membawa penyakit, sanitasi peralatan, higinitas perorang dan melakukan proses produksi sesuai dengan prosedur keamanan
Dengan kegiatan tersebut, diharapkan semua relawan selalu menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dimulai dari diri sendiri sampai lingkungan dapur, saling bekerjasama, kompak dan patuh terhadap aturan yang ada dalam pelaksanaan pengolahan pangan di dapur, serta semua karyawan harus diperiksa kesehatannya secara berkala, untuk mengetahui penyakit yang sedang dialami karyawan dan menghindari penularan melalui makanan yang disajikan,” paparnya.
Sementara itu Bangbang selaku Investor yang hadir dalam acara kegiatan pelatihan tersebut, apresiasi pembekalan pelatihan yang diberikan petugas Dinkes Lebak. Dengan pelatihan ini kata Bangbang, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan para relawan SPPG. Sehingga, dapat terapkan di masing-masing dapur.
“Dengan adanya pelatihan ini semua relawan untuk dapat memahami dan jika tidak memahami kami akan mengadakan pelatihan lagi, kami berharap dapat memahami untuk bisa meningkatkan mutu pelayanan SPPG ditiap dapurnya,” jelasnya.
*Penulis : AN
Komentar