Danton menyebut, rangkaian kegiatan seni yang terbuka untuk publik tanpa biaya ini melibatkan ekosistem dari beberapa komunitas, sehingga mampu menjadi tolok ukur kualitas penyelenggaraan kegiatan seni di Jakarta.
“Program-program kita ini dimensinya mulai dari presentasi riset, diskusi, lokakarya, sampai dengan pameran, jadi bukan sekadar festival, namun juga sebagai tolok ukur kegiatan kesenian yang terutama dilaksanakan oleh DKJ,” ujarnya.
Selain itu, Danton mengatakan, DKJ Fest menjadi sebuah pernyataan sikap terhadap situasi kahar di beberapa ruang seni di Jakarta, dan pernyataan artistik atas situasi kesenian di Jakarta dulu, kini, dan nanti.
Situasi kahar yang dimaksud adalah akumulasi persoalan sejak pra-revitalisasi, revitalisasi, hingga pasca-revitalisasi fisik TIM. Ketika revitalisasi ruang seni seperti TIM mengancam keberlanjutan wataknya sebagai ruang publik, maka ekosistem kesenian secara umum juga terancam.
Ia menyebut tata kelola ruang-ruang seni di Jakarta sedang mengalami gejolak, akibat pandemi COVID-19 dan krisis pasca-pandemi yang membongkar banyak hal dalam ekosistem seni.
“Ada pesan yang ingin kami sampaikan, pertama konteks kahar itu terhadap ruang seni sebagai ruang publik, sebagai contoh kasus TIM ini, yang menjadi bagian dari ekosistem seni secara ruang, bahwa itu berkelindan tidak bisa dilepas satu sama lain,” imbuh Danton.
Tahun ini, DKJ Fest 2023 menyuguhkan pameran Arsip dan Koleksi DKJ dengan tajuk Pekan, Pesta, Festival: Bermula dari Cikini Raya 73, Pameran Maestro Film Indonesia berjudul Silang Visual: Film dan Seni Rupa Grafis, Pekan Koreografi Indonesia, Interdisipliner, Unboxing Tari, Diskusi, Pemutaran Film, dan Lokakarya.
Komentar