Seputarpublik.com || Bandar Lampung – PTPN I Regional 7, bagian dari Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), membuka peluang kerja sama bagi investor untuk pengembangan budidaya singkong di Provinsi Lampung. Lebih dari 10.000 hektare lahan tersedia di Unit Kerja Kebun Kedaton, Bergen, Way Berulu, Way Lima, Tulungbuyut, dan Bungamayang guna mendukung implementasi Program Mandiri Energi Nasional melalui pengembangan energi baru terbarukan berbasis etanol dari singkong.(19/6/2026).
Peluang investasi tersebut disampaikan Business Support Head PTPN I Regional 7, Iskandar Dewantara, dalam rapat percepatan hilirisasi industri singkong yang berlangsung di Bandar Lampung. Ia menegaskan bahwa PTPN I Regional 7 sebagai unit operasional PTPN I di bawah Holding Perkebunan Nusantara siap mendukung program pemerintah dalam mewujudkan ketahanan energi nasional.
“Kami siap melaksanakan kebijakan Bapak Presiden sebagaimana diamanatkan kepada Holding (PTPN Holding) dan HO (Head Office PTPN I) untuk mengekusi di lapangan. Kami memiliki lahan yang dapat dimanfaatkan untuk program ini seluas kurang lebih 10 ribu hektare di enam kebun. Seluruhnya berada di Provinsi Lampung,” kata Iskandar di hadapan para calon investor yang hadir di Kantor Regional 7 Bandar Lampung.
Rapat yang diinisiasi Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DKPTPH) Provinsi Lampung tersebut dihadiri Kepala DKPTPH Provinsi Lampung, Dr. Elvira Umihani, S.P., M.T., Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lampung sekaligus Ketua National Cassava Center (NCC), Kuswanta, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya. Paparan terkait kesiapan PTPN dalam program tersebut disampaikan Ketua Tim Percepatan Hilirisasi Komoditas Ubi Kayu Holding Perkebunan Nusantara, Erwin Sialagan.
Dalam sambutannya, Elvira Umihani menjelaskan bahwa Provinsi Lampung saat ini merupakan sentra utama produksi singkong nasional dengan kontribusi sekitar 62 persen terhadap total produksi nasional. Menurutnya, terdapat 72 pabrik tapioka di Lampung yang sebagian besar bahan bakunya berasal dari petani rakyat.
“Ada 72 pabrik tapioka di Lampung. Bahan bakunya dipasok dari singkong rakyat. Lebih dari 314 ribu keluarga menggantungkan perekonomiannya dari budidaya singkong. Produksinya mencapai sekitar 15 juta ton per tahun dengan produktivitas rata-rata 7,5 ton per hektare,” ujarnya.
Meski produksi singkong Lampung tergolong tinggi, Elvira menegaskan bahwa pengembangan industri etanol membutuhkan kepastian pasokan bahan baku dalam jangka panjang. Karena itu, pemerintah melalui Kementerian Pertanian memberikan mandat kepada Holding Perkebunan Nusantara untuk mendukung pemenuhan kebutuhan tersebut.
“PTPN dinilai memiliki potensi dan sumber daya yang kuat untuk menjalankan mandat ini. Karena itu, seluruh pihak, khususnya calon investor, kami undang untuk membahas strategi dan teknis pelaksanaannya. Hari ini pihak PTPN memaparkan kesiapan yang dimiliki agar para pelaku usaha dapat segera mengambil langkah positif,” katanya.
Sementara itu, Erwin Sialagan menjelaskan bahwa pemerintah menargetkan implementasi bahan bakar campuran E-20 pada tahun 2028, yakni bensin dengan kandungan etanol sebesar 20 persen yang berasal dari bahan baku terbarukan, terutama singkong.
“Sebanyak delapan juta kiloliter etanol diperkirakan dapat dihasilkan dari ubi kayu yang ditanam di lahan seluas 104 ribu hektare. Target tersebut harus dicapai hingga tahun 2029. Untuk tahap awal, pada tahun 2026 ditargetkan terealisasi 10 ribu hektare dan selanjutnya akan dipercepat hingga mencapai angka tersebut. Dengan demikian, pasokan bahan baku industri etanol dapat terjaga secara berkelanjutan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Erwin memaparkan potensi lahan yang dimiliki PTPN I Regional 7 yang dapat segera dimanfaatkan investor. Dalam skema kerja sama yang ditawarkan, Holding Perkebunan Nusantara menyediakan lahan, sementara aspek budidaya, pembiayaan, teknologi, hingga pemilihan varietas menjadi tanggung jawab mitra usaha.
“Model kerja samanya adalah KSU atau kerja sama usaha. Kami menyediakan lahan, sedangkan teknis budidaya, pembiayaan, dan varietas yang akan ditanam menjadi kewenangan investor. Yang pasti, lahan ini kami siapkan untuk mendukung program kemandirian energi nasional,” ujarnya.
Usai pemaparan program, potensi lahan, serta model kerja sama yang ditawarkan, para investor menunjukkan antusiasme tinggi dalam sesi diskusi. Program pengembangan etanol berbasis singkong dinilai mampu memberikan kepastian pasar sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.
“Kami menyambut baik program ini. Baru beberapa bulan terakhir harga singkong membaik hingga mencapai Rp2.000 per kilogram. Dengan adanya program ketahanan energi ini, kami berharap harga tetap stabil sehingga petani singkong dapat semakin sejahtera,” kata Jamsari, salah satu pengurus kelompok tani yang hadir dalam kegiatan tersebut.
Melalui inisiatif ini, Holding Perkebunan Nusantara menegaskan komitmennya dalam mendukung program strategis pemerintah di bidang ketahanan energi nasional, sekaligus mendorong hilirisasi komoditas pertanian dan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan ekosistem industri etanol berbasis singkong yang berkelanjutan.(Adv)*