“Ini artinya, pemuda tidak lagi sebagai penonton. Tapi pelakon. Tidak lagi korban. Tapi penerus perbaikan. Tidak lagi terkapar sebagai sesakitan, tapi adalah obat bahkan pengganti bagi yang berpenyakitan. Inilah yang perlu diperankan oleh pemuda untuk menghadapi tantangan dan dinamika perubahan sosial. Pemuda harus siap jadi pemimpin perubahan, di segala lini kehidupan.” Paparnya.
Sebut Idris, syaratnya agar pemuda bisa menjadi pemimpin perubahan cuma satu. Kompeten atau profesional. Yakni, memiliki kemampuan, kapasitas, kapabilitas, dan kualitas. Jika tidak, maka alamat pemuda akan tersingikir tak berguna, akhirnya negara bisa collaps (negara bisa tutup), bangsa bisa musnah.
Persaingan global baik di bidang ekonomi, pendidikan, dan sosial hari ini, sangat dipengaruhi media sosial internet, dan teknologi informasi yang semakin cangggih. Mau tidak mau, pemuda harus siap berkompetisi. Siap beradaptasi dengan tetap bisa mengendalikan diri dan menguasai sarana teknologi.
Dalam dunia usaha, kesempatan kerja, juga guna memperoleh akses pendidikan dan keterampilan, kompetensi dan profesionalisme sangat dibutuhkan. Itulah kenapa dalam Sistem Pelatihan Kerja Nasional juga mencakup pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja. “Nah, ini lahir dari Pendidikan dan Pelatihan.” Kata Idris.
Komentar