Seputar Publik / Teknologi

Kapan Terakhir ke Pasar? Refleksi Hendry Ch Bangun tentang Wartawan, Lapangan, dan Suara Rakyat

Pengalaman panjang di Kompas dan Warta Kota membawa Hendry Ch Bangun pada satu kesimpulan sederhana: memahami masyarakat tidak cukup hanya dari balik meja redaksi.
Hendry Ch Bangun Tokoh Pers Nasional Hendry Ch Bangun Tokoh Pers Nasional

Sekretariat PB PBSI dulu di Gedung Bulutangkis sekarang, sementara PASI di Stadion Madya, PRSI di Kompleks Renang, dan PB ISSI di Kawasan Gelora. Belakangan pelatnas bulu tangkis dan PB PBSI pindah ke Cipayung, Jakarta Timur, maka untuk menyaksikan latihan, wawancara, perlu effort khusus, kadang bisa satu jam kalau berangkat dari Senayan. Tapi sekali jalan bisa dapat 2-3 berita. Tergantung kreativitas.

Menjadi wartawan bulutangkis membuat saya sering melanglangbuana. Meliput kejuaraan yang berurutan seperti Denmark atau Swedia Terbuka, Perancis Terbuka, All England. Atau Hongkong Open, Taipei Open, dan Jepang Terbuka. Atau Thailand, Singapura, Malaysia dan atau Indonesia Terbuka. Rangkaian ini membuat efektif bagi media, tetapi melelahkan bagi pemain dan pelatih, karena waktu itu jarang ada pergantian susunan pemain yang berangkat.

Menjadi wartawan balap sepeda pernah membuat saya meliput Kejuaraan Asia di Teheran, kejuaraan renang di Filipina, dan ditugaskan meliput bukan bidang seperti US Open dan Australia Open di cabang tenis, sesi latihan motoGP di Sepang, Assen di Belanda, dan Jerez de la Frontera di Spanyol dan sepak bola Piala Raja di Bangkok. Dan tentu saja multi evet seperti SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade. ***

Tulis Komentar

Komentar