Waktu kantor pindah lagi tahun 2011 ke Palmerah, saya hampir tiap hari datang ke pasar, ngobrol dengan Bu Hajjah tukang beras, tukang buah, pedagang telor, penjahit, dan tukang servis jam. Saya beberapa kali mencukur rambut di salon untuk mendengar ocehan tukang salon, yang suka bergossip kelakuan penyewa tetapi juga menceritakan betapa berkuasanya petugas pasar atas pedagang. Kadang terpaksa mengutang akibat sulit membayar iuran bulanan karena sedang “sepi”. Cerita yang menyentuh rasa kemanusiaan karena yang selalu menjadi korban adalah “wong cilik”. Ini belum tentu bisa menjadi berita karena menyangkut keamanan mereka. Cukup disimpan siapa tahu kelak bisa digunakan.
Saya juga mengamati bagaimana pasar dan lingkungannya bersih seketika ketika ada pejabat yang akan datang untuk sidak, atau sekadar lewat. Jalan Palmerah Barat mendadak bersih dan bebas dari pedagang kaki lima ketika Presiden Prabowo Subianto meresmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri di kantor Polsek Palmerah, kebetulan waktu itu saya ada perlu ke kantor dan jalan kaki dari Stasiun Palmerah. Sesaat bersih, siangnya kembali normal. Mikrolet ngetem, pedagang menggelar sebagian dagangan di trotoar, sampah berserakan, dst.
Tentu saja ini pengalaman recehan dibanding wartawan yang ngantor di kantor nyaman seperti di Kementerian, DPR, MPR, Lembaga pemerintahan, Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, dengan fasilitas komputer, the, kopi, dan kadang makan siang gratis. Tetapi bagi saya dan tentu saja untuk sejarah kehidupan sebagai wartawan, sungguh ini kenangan yang memperkaya batin. Membuat saya lebih faham dunia yang kita jalani dengan aneka ragam peristiwa. Enak dan tidak enak. Dan rasanya akan bangga saya ceritakan ke cucu-cucu saya.
Wallahu a’lam bishawab.
Ciputat 31 Agustus 2026
* Penulis: Hendry Ch Bangun - Tokoh Pers Nasional
Komentar